IDEAL
ARISTOTELES DAN FRANCIS BACON
Pengantar
Aristoteles dikenal sebagai “bapak” logika. Logika tidak lain dari
berpikir secara teratur dan runtut yakni sesuai urutan yang tepat atau
berdasarkan hubungan sebab akibat (Mohammad Hatta: 1986, 121). Intisari daripada ajaran logikanya ialah syllogismos.
Istilah tersebut dalam bahasa Indonesia disebut dengan silogistik.
Silogistik maksudnya uraian berkunci, yaitu menarik kesimpulan dari kenyataan
yang umum atas hal yang khusus. Contonya; semua orang bakal mati. Bush adalah
seorang manusia. Bush bakal mati.
Sedangkan Francis Bacon adalah seorang politikus yang sangat dihargai dan
dihormati. Dia hidup pada abad ke-17. Dalam perjalanan pemikirannya ia termasuk
tokoh yang berani menyanggah idea yang telah dirintis oleh Aristoteles. Sanggahan
itu dinyatakan bahwa ilmu sempurna tidak boleh mencari untung, namun harus
bersifat kontemplatif.
Dari paradigma orientasi masing-masing tokoh tersebut, makalah sederhana
ini mencoba menguraikan secara singkat
dan posisi penulis atas paradigma yang ada.
Aksiologi
Ideal Aristoteles
Filsafat alam Aristoteles sangat menghargai data inderawi sebagai bahan
mentah pengetahuan manusia. Aktivitas sains dimulai dari observasi kepada prinsip
umum dan kembali lagi ke observasi. Aristoteles menawarkan sebuah pandangan
dunia. Pandangan dunia tersebut dinamakan pandangan teleologis yang memandang segala sesuatu bergerak menuju tempat
kodratinya. Api membumbung ke atas karena menuju kodratinya yaitu langit
(syamsul Arifin dan Ajang Budiman, 2004146). Menurutnya penjelasan Aristoteles bahwa
segala perubahan itu ada empat sebabnya. Keempat sebab itu adalah pertama, barang,
yang menimbulkan terjadinya suatu atasnya. Kedua, bentuk yang terlaksana
di dalam barang. Inilah yang disebut sebab bentuk. Ketiga, sebab yang datang
dari luar. Keempat, tujuan, yang dituju oleh perubahan dan gerak
tersebut yang lazim disebut sebab-tujuan.
Jika diambil suatu perumpamaan kepada sebuah rumah, maka terdapatlah
prinsip yang empat tersebut sebagi berikut. Barang adalah kayu, besi,
batu dan bahan bangunan lainnya. Bentuk adalah pengertian rumah. Sebab
gerak ialah tukang rumah. Tujuan adalah rumah yang hendak dibangun.
Teleologi yang dikemukakan oleh Aristoteles bermuka dua. Aristoteles
berpendapat bahwa segala yang terjadi di dunia ini adalah suatu perbuatan yang
terujud oleh Tuhan sebagai penggerak alam (al Muharrik al awwal). Selain itu ia juga berpendapat,
bahwa alam ini merupakan berbagai jenis organisme yang berkembang masing-masing
menurut gerak tujuan. Dengan demikian alam tidak berbuat dengan tidak
bertujuan.
Aksiologi Ideal Francis Bacon
Francis Bacon menyanggah dominasi sistem filsafat Aristoteles dengan cara
pandang teleologisnya terhadap alam semesta. Teleologisme adalah metafisika
yang tidak memliki koroborasi empiris (Syamsul Arifin dan Ajang Budiman, 2004:
152) Secara substansial Bacon memang sepakat dengan pendekatan observasional
Aristoteles, bahwa sains bergerak dari observasi kepada prinsip-prinsip umum
dan kembali ke observasi. Meskipun demikian Bacon mempunyai beberapa catatan terhadap pendekaan induktif-deduktif
Aristoteles, yakni:
- Aristoteles dan para pengikutnya dalam pengumpulan data sering sembrono dan tak kritis.
- Aristotelian membuat generalisasi secara tergesa-gesa. Kebanyakan dari mereka melompat-lompat ke prinsip yang umum dan menggunakan prinsip tersebut untuk dideduksikan ke lingkup yang lebih kecil.
- Aristotelian bergantung pada induksi dengan numerasi yang sangat sederhana, yang menjelaskan korelasi eksiden yang ditemukan beberapa individu ditarik kesimpulan bahwa hal tersebut berlaku untuk setiap individu .
.
Selanjutnya Francis Bacon memaklumatkan sebuah doktrin populer
“pengetahuan adalah kuasa”. Manusia hendaknya dapat mengendalikan kekuatan alam
untuk meningkatkan kualitas hidup baik pada dirinya dan sesama. Dalam pandangan
selanjutnya, penelitian ilmiah harus dilepaskan dari “teologisme” dan “teleologisme”.
Pada akhirnya sains harus bersih dari metafisika.
Posisi
Penulis
Menurut hemat penulis pendapat Aristoteles tentang metafisika lebih dapat
diterima penjelasannya dari pada penjelasan Bacon. Hal itu disebabkan ideal Aristoteles
lebih jauh kedepan dalam memberikan gambaran tentang teleologis yang berkenaan
dengan “barang” dan “bentuk” di alam semesta ini. Segala bentuk perubahan yang
ada di alam, tentu ada faktor penggeraknya --yakni sang Pencipta-- yang dalam
bahasa agama disebut Tuhan. Disamping itu alam ini dan tiap-tiap hidup
didalamnya merupakan berbagai jenis organisme yang berkembang menurut gerak
tujuannya. Alam tidak berbuat dengan tidak bertujuan.
Hal ini tentu berbeda dengan pemikiran Francis Bacon yang tidak menjelaskan
tentang adanya sumber kekutan lain selain pengalaman faktual yang dapat
dibuktikan dengan uji empirik.