Selasa, 07 Januari 2014

Pandangan Idealisme Aristoteles dan F. Bacon

"+"

IDEAL ARISTOTELES DAN FRANCIS BACON

Pengantar
Aristoteles dikenal sebagai “bapak” logika. Logika tidak lain dari berpikir secara teratur dan runtut yakni sesuai urutan yang tepat atau berdasarkan hubungan sebab akibat (Mohammad Hatta: 1986, 121). Intisari  daripada ajaran logikanya ialah syllogismos. Istilah tersebut dalam bahasa Indonesia disebut dengan silogistik. Silogistik maksudnya uraian berkunci, yaitu menarik kesimpulan dari kenyataan yang umum atas hal yang khusus. Contonya; semua orang bakal mati. Bush adalah seorang manusia. Bush bakal mati.
Sedangkan Francis Bacon adalah seorang politikus yang sangat dihargai dan dihormati. Dia hidup pada abad ke-17. Dalam perjalanan pemikirannya ia termasuk tokoh yang berani menyanggah idea yang telah dirintis oleh Aristoteles. Sanggahan itu dinyatakan bahwa ilmu sempurna tidak boleh mencari untung, namun harus bersifat kontemplatif.
Dari paradigma orientasi masing-masing tokoh tersebut, makalah sederhana ini  mencoba menguraikan secara singkat dan posisi penulis atas paradigma yang ada.

Aksiologi Ideal Aristoteles
Filsafat alam Aristoteles sangat menghargai data inderawi sebagai bahan mentah pengetahuan manusia. Aktivitas sains dimulai dari observasi kepada prinsip umum dan kembali lagi ke observasi. Aristoteles menawarkan sebuah pandangan dunia. Pandangan dunia tersebut dinamakan pandangan  teleologis yang  memandang segala sesuatu bergerak menuju tempat kodratinya. Api membumbung ke atas karena menuju kodratinya yaitu langit (syamsul Arifin dan Ajang Budiman, 2004146). Menurutnya penjelasan Aristoteles bahwa segala perubahan itu ada empat sebabnya. Keempat sebab itu adalah pertama, barang, yang menimbulkan terjadinya suatu atasnya. Kedua, bentuk yang terlaksana di dalam barang. Inilah yang disebut sebab bentuk. Ketiga, sebab yang datang dari luar. Keempat, tujuan, yang dituju oleh perubahan dan gerak tersebut yang lazim disebut sebab-tujuan.
Jika diambil suatu perumpamaan kepada sebuah rumah, maka terdapatlah prinsip yang empat tersebut sebagi berikut. Barang adalah kayu, besi, batu dan bahan bangunan lainnya. Bentuk adalah pengertian rumah. Sebab gerak ialah tukang rumah. Tujuan adalah rumah yang hendak dibangun.
Teleologi yang dikemukakan oleh Aristoteles bermuka dua. Aristoteles berpendapat bahwa segala yang terjadi di dunia ini adalah suatu perbuatan yang terujud oleh Tuhan sebagai penggerak alam (al Muharrik al  awwal). Selain itu ia juga berpendapat, bahwa alam ini merupakan berbagai jenis organisme yang berkembang masing-masing menurut gerak tujuan. Dengan demikian alam tidak berbuat dengan tidak bertujuan.

Aksiologi Ideal  Francis Bacon
Francis Bacon menyanggah dominasi sistem filsafat Aristoteles dengan cara pandang teleologisnya terhadap alam semesta. Teleologisme adalah metafisika yang tidak memliki koroborasi empiris (Syamsul Arifin dan Ajang Budiman, 2004: 152) Secara substansial Bacon memang sepakat dengan pendekatan observasional Aristoteles, bahwa sains bergerak dari observasi kepada prinsip-prinsip umum dan kembali ke observasi. Meskipun demikian Bacon mempunyai  beberapa catatan terhadap pendekaan induktif-deduktif Aristoteles, yakni:
  1. Aristoteles dan para pengikutnya dalam pengumpulan data sering sembrono dan tak kritis.
  2. Aristotelian membuat generalisasi secara tergesa-gesa. Kebanyakan dari mereka melompat-lompat ke prinsip yang umum dan menggunakan prinsip tersebut untuk dideduksikan ke lingkup  yang lebih kecil.
  3. Aristotelian bergantung pada induksi dengan numerasi yang sangat sederhana, yang menjelaskan korelasi eksiden yang ditemukan beberapa individu ditarik kesimpulan bahwa hal tersebut berlaku untuk setiap individu .
.
Selanjutnya Francis Bacon memaklumatkan sebuah doktrin populer “pengetahuan adalah kuasa”. Manusia hendaknya dapat mengendalikan kekuatan alam untuk meningkatkan kualitas hidup baik pada dirinya dan sesama. Dalam pandangan selanjutnya, penelitian ilmiah harus dilepaskan dari “teologisme” dan “teleologisme”. Pada akhirnya sains harus bersih dari metafisika.

Posisi Penulis  
Menurut hemat penulis pendapat Aristoteles tentang metafisika lebih dapat diterima penjelasannya dari pada penjelasan Bacon. Hal itu disebabkan ideal Aristoteles lebih jauh kedepan dalam memberikan gambaran tentang teleologis yang berkenaan dengan “barang” dan “bentuk” di alam semesta ini. Segala bentuk perubahan yang ada di alam, tentu ada faktor penggeraknya --yakni sang Pencipta-- yang dalam bahasa agama disebut Tuhan. Disamping itu alam ini dan tiap-tiap hidup didalamnya merupakan berbagai jenis organisme yang berkembang menurut gerak tujuannya. Alam tidak berbuat dengan tidak bertujuan.  
Hal ini tentu berbeda dengan pemikiran Francis Bacon yang tidak menjelaskan tentang adanya sumber kekutan lain selain pengalaman faktual yang dapat dibuktikan dengan uji empirik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar