Selasa, 07 Januari 2014

Pemikiran Aristoteles dan Francis Bacon Bidang Ilmu dan Teologi

"+"

DIKOTOMI
SAINS DAN AGAMA


Pendahuluan
Memperbincangkan sains dan agama, sampai saat ini masih ada public image yang mendikotomikan[1] antara keduanya. Kedua hal itu seolah memandang sains tidak memiliki kaitan dengan agama, demikian juga sebaliknya agama tidak memiliki kaitan dengan sains. Masing-masing berdiri pada wilayahnya sendiri-sendiri. Sehingga sains dan agama dipandang memiliki orientasi yang berbeda dan bahkan ”diperkirakan” tidak akan pernah ketemu.
Terlepas dari dikotomi tersebut, secara kodrat manusia ingin memperoleh keingintahuannya sebanyak mungkin tentang segala sesuatu[2]. Keingintahuannya itu digunakan untuk menjalani hidup praktis dan teoritis. Sederhananya, manusia perlu mengetahui segala sesuatu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya secara pasti.
Apabila diruntut dari sejarahnya bahwa sains memiliki perjalanan yang cukup lama dan panjang sebelum menampakkan wujudnya yang canggih di abad 17. Sains praktis yang dikenal dengan teknologi saat ini merupakan hasil evolusi dari berbagai pengalaman-pengalaman empiris yang didukung atas hukum-hukum naturalistiknya. Kemunculan sains mau tidak mau berhutang budi pada filsafat Yunani Kuno yang menyingkirkan mitologi sebagai moni penjelas tentang gejala-gejala alam[3]. Dengan demikian, ---waktu itu--- tugas suci filosof adalah menyingkap tabir alam semesta ini, ditata sedemikian rupa sesuai dengan pola matematis.
Setelah sains dilepaskan dari teologi dan dominasi filsafat Aristotelian, ia menjelma menjadi satu modus pengetahuan manusia yang dilengkapi dengan hukum-hukum alamiahnya sendiri. Wujud yang sempurnapun muncul ditengah peradaban manusia. Wujud bersih inipun seolah bahkan berlawanan dengan segala sesuatu yang berbau metafisis dan sebelumnya mendominasinya.
Atas dasar realitas tersebut terjadi sikap yang diistilahkan oleh Liek Wilardjo ”4P”, yakni pertentangan (conflict), perpisahan (independence), perbincangan (dialogue) dan perpaduan (integration)[4]. Realita itu didasari oleh fenomena berubahnya lembaga pendidikan IAIN menjadi UIN yang bermaksud mengintegrasikan sains dengan agama atau bahkan sebaliknya mengintegrasikan agama dengan sains.

Orientasi Sains; Pandangan Ideal Aristoteles dan Francis Bacon serta nilai konstitutif dan kontekstual
Perkembangan sains diharapkan mampu memberikan manfaat positif pada diri manusia dan pola kehidupannya. Sains tidak saja hanya berkembang untuk sains itu sendiri tetapi lebih dari itu juga mampu menjadi subyek dalam kehidupan manusia. Dari tujuan itu, maka perkembangan sains memiliki daya kuat pada diri manusia untuk dikuasainya.
Pemikiran tersebut berbeda dengan ideal Aristoteles yang berpandangan bahwa ilmu untuk ilmu. Artinya bahwa sains dikembangkan murni untuk kepentingan sciences. Sementara berbeda dengan ideal Francis Bacon yang berpandangan bahwa ilmu demi kemaslakhatan umat manusia. Artinya perkembangan sains itu diperuntukkan demi kehidupan umat manusia.
Ideal Francis Bacon tersebut yang kemudian di amini oleh sebagian besar umat manusia dan bahkan menjadi dominasi dalam paradigma manusia ---khususnya kalangan akademisi. Pandangan yang demikian itu adalah aliran positivisme. Aliran positivisme berpegang pada kenyataan sebagai sebuah nilai empirisnya, dan menolak kebenaran yang metafisis.
Dari ideal aristoteles yang demikian itu berarti masuk pada wilayah nilai konstitutif. Artinya sebuah nilai yang berorientasi pada pandangan metafisis sebagai nilai kebenaran. Sementara ideal F. Bacon masuk pada wilayah nilai kontekstual karena idealtasnya didasarkan bahwa sains digunakan untuk kemaslakhatan umat manusia.

Posisi Penulis Antara Ideal Aristoteles dengan Francis Bacon
Berdasar pandangan ideal Aristoteles dan F. Bacon tersebut, penulis mengambil posisi pada proses dialogis. Proses dialogis dimaksudkan untuk mengkaji antara kekurangan dan kelebihan diantara kedua pandangan Aristoteles dan F. Bacon. Sehingga dari proses itu diharapkan saling melengkapi diantara keduanya.
Demikian juga pada perbincangan tentang sains dan agama. Meski, seolah memiliki orientasi yang berbeda namun apabila dicermati seperti simbiosismutualisme. Pertentangan antara sains dan agama tidak harus terus di perdebatkan sampai pada wilayah yang ekstrim. Keduannya merupakan fenomena yang seharusnya diselesaikan secara arif dengan pendekatan ilmiah. Karena, pada prinsipnya hal itu menjadi tanggungjawab para akademisi untuk memperhatikan, merenungkan dan mendialogkan.



[1] Kata mendikotomikan tersebut berasal dari kata dikotomi. Dikotomi sendiri bermakna pembagian dalam dua bagian yang saling bertentangan. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), 110.
[2] Baca Andi Hakim Nasution, Pengantar ke Filsafat Sains, (Jakarta: Pustaka Litera Antaranusa, 1999), 2-4.
[3] Baca Syamsul Arifin dan Ajang Budiman, Pengantar Filsafat; Pendekatan Sistematis, (Malang: UMM Press, 2004), 148.
[4] Pertentangan ialah hubungan yang saling bermusuhan (conflicting), Perpisahan berarti ilmu dan agama berjalan sendiri-sendiri dengan bidang garapan, cara dan tujuannya masing-masing, Perbincangan ialah terjadi hubungan yang saling terbuka, dan keduanya saling memahami persamaan dan perbedaan, Perpaduan ialah hubungan yang bertumpu pada kenyakinan bahwa pada dasarnya sama dan menyatu. Liek Wilardjo, Ilmu dan Agama di Perguruan Tinggi: Dipadukan atau Dibincangkan, Dalam edt. Zainal Abidin Bagir, Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi, (Bandung: Mizan, 2005), 146. 

1 komentar:

  1. Urban Titanium Art | Art Direction - TITNA.com
    Art titanium bolt Direction. Urban titanium body armor Titanium Art. Urban titanium nipple rings Titanium Art. TINY TINY titanium easy flux 125 amp welder TINY TINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYT titanium lug nuts

    BalasHapus