DIKOTOMI
SAINS DAN AGAMA
Pendahuluan
Memperbincangkan sains dan
agama, sampai saat ini masih ada public image yang mendikotomikan[1] antara keduanya. Kedua hal itu seolah
memandang sains tidak memiliki kaitan dengan agama, demikian juga sebaliknya agama
tidak memiliki kaitan dengan sains. Masing-masing berdiri pada wilayahnya sendiri-sendiri. Sehingga sains dan
agama dipandang memiliki orientasi yang berbeda dan bahkan ”diperkirakan” tidak
akan pernah ketemu.
Terlepas dari dikotomi
tersebut, secara kodrat manusia ingin memperoleh keingintahuannya sebanyak
mungkin tentang segala sesuatu[2].
Keingintahuannya itu digunakan untuk menjalani hidup praktis dan teoritis.
Sederhananya, manusia perlu mengetahui segala sesuatu untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya secara pasti.
Apabila diruntut dari sejarahnya
bahwa sains memiliki perjalanan yang cukup lama dan panjang sebelum menampakkan
wujudnya yang canggih di abad 17. Sains praktis yang dikenal dengan teknologi
saat ini merupakan hasil evolusi dari berbagai pengalaman-pengalaman empiris
yang didukung atas hukum-hukum naturalistiknya. Kemunculan sains mau tidak mau
berhutang budi pada filsafat Yunani Kuno yang menyingkirkan mitologi sebagai
moni penjelas tentang gejala-gejala alam[3].
Dengan demikian, ---waktu itu--- tugas suci filosof adalah menyingkap tabir alam
semesta ini, ditata sedemikian rupa sesuai dengan pola matematis.
Setelah sains dilepaskan dari
teologi dan dominasi filsafat Aristotelian, ia menjelma menjadi satu modus
pengetahuan manusia yang dilengkapi dengan hukum-hukum alamiahnya sendiri.
Wujud yang sempurnapun muncul ditengah peradaban manusia. Wujud bersih inipun
seolah bahkan berlawanan dengan segala sesuatu yang berbau metafisis dan
sebelumnya mendominasinya.
Atas dasar realitas tersebut terjadi
sikap yang diistilahkan oleh Liek Wilardjo ”4P”, yakni pertentangan (conflict),
perpisahan (independence), perbincangan (dialogue) dan perpaduan
(integration)[4].
Realita itu didasari oleh fenomena berubahnya lembaga pendidikan IAIN menjadi
UIN yang bermaksud mengintegrasikan sains dengan agama atau bahkan sebaliknya
mengintegrasikan agama dengan sains.
Orientasi Sains; Pandangan Ideal
Aristoteles dan Francis Bacon serta nilai konstitutif dan kontekstual
Perkembangan sains diharapkan mampu memberikan
manfaat positif pada diri manusia dan pola kehidupannya. Sains tidak saja hanya
berkembang untuk sains itu sendiri tetapi lebih dari itu juga mampu menjadi
subyek dalam kehidupan manusia. Dari tujuan itu, maka perkembangan sains
memiliki daya kuat pada diri manusia untuk dikuasainya.
Pemikiran tersebut berbeda dengan ideal Aristoteles
yang berpandangan bahwa ilmu untuk ilmu. Artinya bahwa sains dikembangkan murni untuk kepentingan sciences.
Sementara berbeda dengan ideal Francis Bacon yang berpandangan bahwa ilmu demi
kemaslakhatan umat manusia. Artinya perkembangan sains itu diperuntukkan demi
kehidupan umat manusia.
Ideal Francis Bacon tersebut yang kemudian di amini
oleh sebagian besar umat manusia dan bahkan menjadi dominasi dalam paradigma
manusia ---khususnya kalangan akademisi. Pandangan yang demikian itu adalah
aliran positivisme. Aliran positivisme berpegang pada kenyataan sebagai sebuah
nilai empirisnya, dan menolak kebenaran yang metafisis.
Dari ideal aristoteles yang demikian itu berarti
masuk pada wilayah nilai konstitutif. Artinya sebuah nilai yang berorientasi
pada pandangan metafisis sebagai nilai kebenaran. Sementara ideal F. Bacon
masuk pada wilayah nilai kontekstual karena idealtasnya didasarkan bahwa sains
digunakan untuk kemaslakhatan umat manusia.
Posisi Penulis Antara Ideal
Aristoteles dengan Francis Bacon
Berdasar pandangan ideal
Aristoteles dan F. Bacon tersebut, penulis mengambil posisi pada proses
dialogis. Proses dialogis dimaksudkan untuk mengkaji antara kekurangan dan
kelebihan diantara kedua pandangan Aristoteles dan F. Bacon. Sehingga dari
proses itu diharapkan saling melengkapi diantara keduanya.
Demikian juga pada
perbincangan tentang sains dan agama. Meski, seolah memiliki orientasi yang
berbeda namun apabila dicermati seperti simbiosismutualisme. Pertentangan
antara sains dan agama tidak harus terus di perdebatkan sampai pada wilayah
yang ekstrim. Keduannya merupakan fenomena yang seharusnya diselesaikan secara
arif dengan pendekatan ilmiah. Karena, pada prinsipnya hal itu menjadi tanggungjawab
para akademisi untuk memperhatikan, merenungkan dan mendialogkan.
[1] Kata mendikotomikan
tersebut berasal dari kata dikotomi. Dikotomi sendiri bermakna pembagian dalam
dua bagian yang saling bertentangan. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya:
Arkola, 1994), 110.
[2] Baca Andi Hakim Nasution, Pengantar ke Filsafat Sains, (Jakarta:
Pustaka Litera Antaranusa, 1999), 2-4.
[3] Baca Syamsul Arifin dan Ajang Budiman, Pengantar Filsafat;
Pendekatan Sistematis, (Malang: UMM Press, 2004), 148.
[4] Pertentangan ialah hubungan yang saling bermusuhan (conflicting),
Perpisahan berarti ilmu dan agama berjalan sendiri-sendiri dengan bidang
garapan, cara dan tujuannya masing-masing, Perbincangan ialah terjadi
hubungan yang saling terbuka, dan keduanya saling memahami persamaan dan
perbedaan, Perpaduan ialah hubungan yang bertumpu pada kenyakinan bahwa
pada dasarnya sama dan menyatu. Liek Wilardjo, Ilmu dan Agama di Perguruan
Tinggi: Dipadukan atau Dibincangkan, Dalam edt. Zainal Abidin Bagir, Integrasi Ilmu dan Agama:
Interpretasi dan Aksi, (Bandung: Mizan, 2005), 146.
Urban Titanium Art | Art Direction - TITNA.com
BalasHapusArt titanium bolt Direction. Urban titanium body armor Titanium Art. Urban titanium nipple rings Titanium Art. TINY TINY titanium easy flux 125 amp welder TINY TINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYTINYT titanium lug nuts