LATAR BELAKANG
YUNANI,
SURYANI, INDIA DAN PERSIA
PENDAHULUAN
Ada
berbagai cara untuk mendekati sejarah filsafat Islam. Hingga kini , pendekatan
yang paling lazim adalah mengkaji para pemikir terkemuka dan menempatkan mereka
sebaik-baiknya dalam kontek zaman mereka. Ada beberapa kelebihan dan keuntungan
dari cara pendekatan ini dalam hal bahwa cara ini menjadikan figur-figur
intelektual itu dikenal dengan baik dan cara ini juga mengkaitkan filsafat
Islam dengan aspek-aspek lain dari kebudayaan periode yang bersangkutan. Namun
pendekatan ini sering cenderung lebih terfokus pada individu pemikirnya dari
pada gagasan filsafatnya, dan ada bahayanya yaitu memperlakukan filsafat Islam
lebih sebagai elemen dari sejarah gagasan-gagasan dari pada sebagai bagian dari
sejarah filsafat.
Ada kesan kuat yang berkembang dikalangan sarjana barat, baik yang muslim
maupun yang bukan muslim bahwa filsafat Islam adalah tidaklah benar-benar
Islam, filsafat Islam tidak lebih dari sekedar filsafat Yunani dalam bahasa
Arab. Hal ini merupakan penyambung peradaban Yunani. Filsafat Islam mungkin
dapat dianggap sebagai sejenis filsafat yang dihasilkan oleh kaum muslim
walaupun dalam bentuk yang sempit. Banyak filsafat yamg dihasilkan oleh kaum
non muslim. Meskipun demikian
perndekatan ini mungkin membawa kesulitan interpretasi. Mungkin ada pembaca
yang mengamati bahwa Al-Farabi menggunakan terminologi religius untuk
mengunkapkan suatu masalah fisafat Yunani dan mereka barangkali berpendapat
bahwa apa yang dilakukan Al-Farabi adalah menunjukkan bahwa bentuk pemikiran Yunani itu sesuai dan selaras dengan Islam.
Oleh
karenanya untuk mengetahui lebih luas tentang filsafat Islam maka perlu
mengkaji latar belakang Yunani dan Suryani serta India dan Persia agar
pemahaman kita tentang hubungan filsafat Islam dengan asal usul Yunani dan
lainnya lebih jelas. Semua itu untuk membuktikan adanya kesinambungan dan
keterkaitan dengan gerakan intelektual besar dalam sejarah dunia dan letak
pentingnya sebagai unsur pembentuk kebudayaan dunia
A. Latar belakang Yunani dan Suryani
Filosof Islam, failasuf, terlibat dalam sejenis
kegiatan pencarian dan penyelidikan yang biasanya dimasukkan bersama ilmu
kedokteran, matematika, astronomi, dan fisika. Hal ini termasuk dalam katagori
“ilmu-ilmu asing’. Kategori ini sangat rapi dan wajar terjadi di lingkaran Islam:
”ilmu-ilmu asing” dihadapkan secara berseberangan dengan “ilmu-ilmu Islam”.
Walaupun telah mempertimbangkan asal usul dari dua kumpulan pengetahuan ini.
Pembedaan semacam ini juga mengandaikan bahwa kita mungkin berbeda dalam suatu
perbedaan akademik : Kutukulum ysng boleh jadi mewakili dua mazhab atau berada
dalam model Universitas Eropa abad pertengahan yaitu dua fakultas yang berbeda
didalam lembaga pendidikan tinggi yang sama.
Pada kenyataanya, pertimbangan dan penilian historis ini benar. Failasuf, seperti dokter dan ilmuan
memasuki usaha intelektual yang asal usul hellenistiknya sama transparan dengan
namanya. Failasuf adalah philosophos, para ahli waris suatu
tradisi intelektual yang berasal dari Yunani kemudian diwariskan tanpa rusak
ataupun berkurang lalu menjadi milik dunia Islam. Itulah kebijaksanaan yang
diterima oleh kaum muslim pada abad ke-9 H dan ke-10 H. dan faktanya tidak jauh
berbeda dari keadaan yang di ilustrasikan. Yang jauh dari fakta tersebut adalah
pendapat bahwa ilmu-ilmu “asing” atau helenis merupakan bagian dari kurikulum
akademik atau fakultas dalam madrasah-madrasah resmi. Kurikulum yang memuat
ilmu-ilmu semacam itu memang kurikulum ideal tetapi hanya dalam lingkup
akademis yang tidak banyak diketahui atau bahkan dibayangkan oleh
sarjana-sarjana sufi, meskipun falsafah sudah diajarkan diberbagai madrasah
dalam dunia Syi’ah.
Dalam pandangan Islam yang
terlibat dalam ilmu-ilmu asing, mereka adalah ahli waris Aristoteles dan Plato.
Filosof-filosof tadi dikenal dalam dunia Islam, tetapi posisi dan peranannya
dalam sejarah filsafat Yunani sedikit sekali diketahui. Kita (barat), dalam hal
ini cukup banyak mempunyai informasi subyek yang bersangkutan, paling tidak
tiga atau empat abad pertama pada zaman Kristen. Akan tetapi pengetahuan kita
terlampau sedikit dan agak kabur begitu mendekati tahap – tahap perkembangan
abad ke- 5, ke-6, dan ke-7 M tradisi Platonic dan Aristotelian yang banyak
diwarisi oleh kaum muslim. Sebagian besar teks yang kita miliki, dimiliki pula
oleh kaum muslim, meski tidak banyak yang terselamatkan hingga sekarang.
Hal-hal yang barangkali berbeda adalah cara menindaklanjuti teks-teks tersebut:
bagaimana melacak pewarisnya dan perubahan yang dilakukan kemudian pada
filsafat Plato dan Aristoteles ditangan para komentatornya, yang kesemuanya
adalah para guru besar di Universitas-universitas Imperium Romawi Timur.
Memahami falsafah tidak hanya
cukup menerima dan mengakui apa yang kaum muslim ketahui tentang Plato dan
Aristoteles, mencatat karya-karya mana dari para guru yang diterjemahkan,
bagaimana dan oleh siapa serta kapan., sejumlah tolok ukur harus diambil untuk
mengetahui kualitas platonisme dan aristotelianisme yang mereka warisi, yang
berubah menjadi sangat berbeda dengan para pendahulu mereka. Untuk memeriksa hal
itu, kita harus melihat catatan terlengkap dan terbaik kaum muslim sendiri yang
diberikan oleh Ibn Al-Nadim untuk merekonstruksi dengan bantuan kesaksianya
yaitu tradisi filosofi zaman kuno akhir yang kompleks.
Pada 377 H/987 M, seorang penjual buku yang bernama Abu Al-Faraj Muhammad
ibn Al-Nadim menyelesaikan Fihrist atau
Catalogue (katalog). Fihrist tidak
lebih dari sekedar ensiklopedi abad ke 10 M tentang seni leterer dan ilmu-ilmu
Islam. Selain itu fihrist juga
memberikan perhatian khusus pada kegiatan penerjemahan kaum Muslim sehingga ia
merupakan salah satu petunjuk yang baik bagi kita tentang pemahaman mereka
mengenai lanskap filisofis dan ilmiah dunia Islam pada zaman kuno akhir. Dengan
fihrist kita dapat mengambarkan agak
terperinci seberapa bersar dan apa saja jenis warisan ”asing” yang tersedia
bagi kaum Muslim.
Dua unsur luar biasa Hellenisme yang diwarisi atau di ambil alih oleh
Islam nampak jelas dari halaman Ibn Nadim. Nilai-nilai literer, politik dan
filsfat atau yang disebut Hellenisme dapat mengubah budya-budaya lain, bahkan
budaya-budaya religius sebelumnya, tetapi umumnya melalui kaum cerdik pandai
yang telah mempelajari bahasa Yunani. Namun persinggungan antara Hellenisme
dengan Islam sangat luar biasa : kaum muslim tidak menerima bahasa, nilai-nilai
humanistik dan agama orang Yunani. Peminjaman Muslim hadir melalui penerjemahan
dan sangat terbatas pada Hellenisme yang berwajah teknis dan ilmiah. Kaun
muslim mengenal filsafat Yunani, tetapi tidak menguasai bahasa Yunani; mereka
membaca karya-karya Plato, Aristoteles, Galen tapi hanya sedikit yang membaca
karya Homer, Sophocles dan lain-lain.
Pemisahan unsur-unsur Yunani dari cita idealnya ini mencerminkan
praktek-praktek pendidikan zaman kuno akhir. Pada saat itu pendidikan tinggi
begitu professional sehingga dimungkinkan untuk memasukkan kurtikulum ilmu-ilmu
kealaman, kedokteran dan filsafat tanpa memberi kerangka bahwa semua itu
merupakan bagian dari enkykliospaideia,
suatu pendidikan umum yang didalamnya mencakup bahasa dan retorika.
Namun ada satu tempat penting pada zaman kuno akhir yang kendatipun
memiliki standar professional yang tinggi dalam filsafat, kedokteran, dan
ilmu-ilmu matematika, tidak berminat pada retorika. Mesir dengan pusat
intelektualnya yang besar, yaitu Alexandria ( Iskandariah ) menyesuaikan diri
setepat-tepatnya dengan sumber hipotesis versi Hellenisme Muslim yang ilmiah
tetapi kurang liberal.
Universitas di Alexandria pada
abad ke-7 M mempunyai kurikulum yang maju dalam bidang filsafat dan sains
tetapi lemah dalam retorika atau ilmu-ilmu humaniora dan hukum. Yang jelas bahwa apapun kandungan aktual
filosofis mereka, kaum muslim menganggap Aristoteles adalah sebagai tetua dari
sekumpulan orang bijak Hellenis, sedangkan Al-Farabi, Platonis Muslim yang
paling menonjol dikaitkan bukan dengan Plato melainkan dengan Aristoteles
ketika dia disebut “Guru Kedua“. Tinjauan Fihrist atas para filosof
pasca-Aristoteles memperlihatkan perspektif yang sama, seperti Theophratus,
Proclus “Sang Platonis”, Alexander Aphrodisias, Porphyry, Ammonius ( Hermieu ),
Themistius.
Dari situ, adalah mungkin bagi kita walaupun tidak bagi Ibn Nadim dan
para tokoh semasanya, untuk melacak hubungan dengan Porphyry abad ke 4 M yaitu
orang yang telah memperkenalkan tafsir-tafsir tekstual tentang Aristoteles
dalam kurikukum sekolah-sekolah mazhab Platonic.
Menurut tradisi mazhab paska porpyrian ada dua cabang utama filsafat :
1.
Perwujudan realitas fisik
2.
Perenungan realitas supra-indriawi
Yang pertama
dikenal dengan istilah fisika sedangkan yang ke-2 dikenal dengan istilah
teologi. Pada pandangan Aristotelian yang asli logika adalah metode, atau suatu
instrumen, alat atau organ (organon), bukan bagian dari filsafat. Hal ini
berbeda dengan ajaran Plato yang menyatukan antara dialektika dan metafisika,
filsafat dan cara berfilsafat. Porphyry menerapkan organon logis pada awal
kurikulum. Dari organon, kaum platonis melangsungkan study tentang filsafat
Aristotelian secara sungguh-sungguh khususnya risalah-risalah fisika dan
psikologi.
Dapat
dipastikan, inilah kurikulum standart di satu-satunya sekolah filsafat yang
masih bertahan pada zaman kuno akhir itu yakni sekolah Platonic. Akan tetapi
filsafat yang dibawa kaum muslim adalah yang berasal dari contoh terjemahan
“pengantar Aristoteles”. Pemetaan risalah-risalah Aristotelian dari categories sampai metaphisics yang dijumpai
dalam fihristnya Ibn al-Madin dan
yang menentukan struktur sebagian besar ensiklopedi “ilmu-ilmu asing” kamum
muslim, hal itu bukanlah kurikulum melainkan suatu pemetaan ilmu akademik.
Salah satu faktanya adalah baik kaum muslim maupun barat tidak mempunyai cukup
banyak informasi tentang kurikulum dari suatu madzhab Aristotelian yang
sebenarnya.
Penghormatan
kaum muslim kepada Aristoteles merupakan hal yang baru di Timur Dekat. Selama 5
abad sebelumnya setiap orang belajar filsafat dengan suatu fragmatisme yang
jauh lebih terbatas dari pada pendekatan yang dilakukan kaum muslim. Kaum neo
Platonis memberi Aristoteles tempat dalam kurikulum mereka, akan tetapi orang
Kristen pun lebih ketat membatasi pemakaian filsafat Aristoteles.
Namun
pemakaian Aristoteles oleh orang Kristen malah lebih penting dari pada
pembatasan terhadapnya. Karya besar kaum neo platonis tidak muncul dalam bahsa
lain, kecuali bahasa aslinya yaitu Yunani hingga kedatangan Islam. Sedangkan
karya Aristoteles menggunakan bahasa Suryani meskipun dalam kapasitas terbatas,
meskipun literatur berbahsa Suryani yang merupakan kreasi pada masa-masa
Kristen, bangsa berhasa Aramaik di
Timur Dekat sudah hidup di lingkungan terhelenisasi sejak masa penaklukan
Alexander yang Agung. Jika di Edessa kontak antara bangsa Aramea dan bangsa
Hellen menghasilkan suatu literatur yang mempunyai sentimen dan kepentingan
Kristen berlebihan, maka kontak yang sama di Harran terjadi percampuran budaya
yang berkarakter jauh berlainan: pagan, ilmiah dan penuh tahayul, alih-alih
meditatif, asketik, musikal dan terutama bercorak Kristen. Di Harran tidak
menghasilkan literatur hingga masa penaklukan muslim, tetapi apa yang terjadi
bahwa ilmu-ilmu Yunani hidup di sejumlah pusat Semitik Timur Dekat untuk jangka
waktu cukup lama dan tidak semua keturunannya Hellenis.
Para teolog
Antiokia merupakan kelompok yang dikatakan sebagai penafsir dari pada ahli
metafisika dalam tradisi Alexadria. Menurutnya bahwa logika Aristotelian lebih
bermanfaat dari pada teologi Plato, penafsir utama mdzhab Antiokia adalah
Theodore Mopsuestian (W. 428 M). Apapun penilaian terhadap ortodoxinya Theodore
Mopsuestian bagi orang Suriah Timur memiliki posisi yang sama yaitu sebagai
penafsir otoritatif kitab suci Kristen. Selama hayat Theodore Mopsuestian
pengajaran tafsir Kristen diawali dengan pengajaran logika Aristotelian, karena
pengenalan karya-karya Theodore Mopsuestian dan metode ke sekolah berbahasa
Suryani di Eddesa ditandai dengan munculnya organon dalam kurikulum. Begitu
juga di Nisibis kurikulum yang digunakan bersifat teologis. Yang akhirnya
sekolah Nissibib di pimpin oleh Hennana yang setelah menjalani karir selama 30
tahun sebagai ahli “Tafsir” dan setelah itu sekolah nissibis tidak pernah lagi
di pulihkan, penyebabnya adalah Hennana akan mengganti Theodore dan menganti
tradisi tafsir antiokia dengan sesuatu yang lebih cocok dengan tradisi platonik
dan akexandrian, suatu posisi yang membuat ia dima para kolega terkesan
mengkhiananti kistologi dan menyeberang ke pihak monofisit.
Pada masa
Henana logika Aristhotelian benar-benar dipribumikan dalam bahasa suryani dan
menandai pendidikan baik para penafsir maupun theolog Kristen, yang merupakan
kaum cerdik-pandai Suriah timur. Study Kedokteran juga tumbuh dan berkembang,
kurikulumnya diterjemahkan kedalam bahasa Suryani oleh orang Suriah Barat awal
abad ke 6 M dan pastilah sudah digunakan di wilayah yang sedang tumbuh menjadi
pusat kedokteran terpenting di Jundishapur, Kuzistan (Persia). Bahannya
bersifat Hellenik dan Hellenistik, tetapi studinya tidak mesti berupa
pengetahuan Yunanai. Satu-satunya agamawan gereja Suriah Timur abad ke 6 M
adalah Mar Aba, yang belajar di
Nissibis, tetapi harus pulang ke Edessa (Bizantium) untuk belajar bahasa
Yunani.
B. Latar Belakang India Dan Persia
Proses
penyebaran gagasan-gagasan India dan Persia ke Dunia Islam dan pengaruhnya atas
pemikiran Islam merupakan masalah yang sangat pelik bagi para sejarawan. Sejak
dahulu, tukar-menukar gagasan telah berlangsung antara India dan Persia, lama
sebelum kemunculan Islam. Proses ini antara lain, terwujud dalam pergulatan
doktrinal dan, ini melibatkan banyak modifikasi, bahkan transformasi, pada
gagasan-gagasan suatu komunitas oleh tradisi lokal komunitas lainnya. Maka,
baik India maupun Persia terkena pengaruh Hellenistik meskipun dalam kadar yang
beragam. Banyak gagasan dan sistem Yunani yang akhirnya menjangkau India dan Persia
tidak secara langsung berasal dari pusat-pusat ilmu Hellenistik di Timur Dekat,
tetapi secara tidak langsung dari satu sama lain (India dan Persia) setelah
mengalami perlakuan-perlakuan lokal. Pada saat yang bersamaan, yang menjadikan
situasinya bahkan lebih rumit, baik India maupun Persia secara langsung juga
juga menerima gagasan Yunani, dengan bantuan terjemah-terjemahan teks Yunani
Asli. Kesemuanya ini menimbulkan jalinan kompleks intelektual dari apa yang
biasa disebut sebagai etos India-Persia pra Islam, dan jalinan kompleks inilah
yang kemudia diwarisi Islam.
Sekali lagi, dalam fase formatif tradisi filsafat dan keilmuan Islam
sendiri, gagasan-gagasan mengalir ke dalamnya dari berbagai sumber, dan disini
terbentuklah situasi kompleks lebih lanjut. Ketika Alexandria jatuh ke tangan
kaum Muslim pada 641 M, penaklukan Arab Muslim atas Timur Dekat menjadi tuntas,
dan bersamaan dengan ini hadirlah kemudian peninggalan akademi terhellenisasi
yang berkembang dengan sejumlah variasi selama enam abad pertama zaman Kristen.
Diantaranya adalah pusat-pusat
pendidikan (berbahasa) Suryani yang terdapat di Edessa (Al Ruha, Urfa moder
sisi timur Eufrat hulu) Nisibis (dekat Sungai Tigris hulu, barat laut Mosul),
Resain, Kinnesrin, Homs dan Baalbek (Heliopolis). Kota yang juga ditaklukkan
oleh kaum muslim adalah pusat ilmu Harran, yang terletak tidak jauh di selatan
Eddesa. Harran terutama menjadi tempat para penyembah bintang yang melestarikan
agama asli dan pengaruh dari dunia Timur yang cukup jauh – termasuk dalam pengaruh
ini, penting untuk dicatat, adalah pengaruh-pengaruh India.
Akan tetapi, ini hanya menggambarkan sebagian dari apa yang diwarisi kaum
Muslim. Pada 651 M Syah dari Dinasti Sassaniyah terakhir meninggal
dan Persia sepenuhnya masuk ke dalam pangkuan Islam. Kawasan ini nantinya
memberikan unsur-unsur tambahan bagi sumber intelektual Islam yang sedang
berkembang. Salah satu unsur penting dari sudut pandang kita kali ini
disumbangkan oleh akademi Jundishapur di Persia Selatan yang mencapai puncak
kefayaannya sekitar pertengahan abad ke-6 M selama pemerintahan Anusyirwan.
Akhirnya Jundishapur telah menjadi tempat kelahiran berbagai kegiatan
intelektual ketika pada 489 M Kaisar Zeno menutup Akademi Edessa. Oleh karena
itu dengan sumberdaya akademik yang melimpah dan kesediaanya menampung pelbagai
individu, Jundishapur mulai berperan sebagai gelanggang pertukaran ilmu persia,
Yunani, Roma, Suryani dan India.
Karena kompleksitas saluran yang dilalui gagasan-gagasan asing untuk
memasuki dunia Islam awal dan karena pertukaran intelektual yang berlangsung di
dalam saluran ini yang di dalamnya banyak gagasan asli dimodifikasi,
diintegrasikan dan di rombak sangat sulit memberikan ulasan yang sederhana dan
rapi tentang peran gagasan India dan persia dalam perklembangan pemikiran
Islam. Pada kenyataannya masalah itu lebihn diperumit lagi oleh fakta bahwa
terjemahan-terjemahan bahasa Arabdari teks-teks berbahasa sanskrit, Pahlawi,
dan Suryani dilakukan dalam fase terawal sejarah intelektual Islam, padahal
pada akhir fase tersebut para penerjemah mengarahkan perhatian mereka hampir
sepenuhnya pada karya-karya Yunani.
Para sarjana kontemporer pernah juga berbicara tentang pengaruh India
atas doktrin-doktrin kosmologis kalam ,
tradisi filsafat atomistik aristotelian Islam, yang sering di sebut secara agak
menyesatkan sebagai teologi skolastik Islam. Mulai diperkenalkan ke dunia
kesarjanaan modern oleh Schmolders pada 1840-an, masalah pengaruh India atas kalam ini banyak mendapatkan perhatian
dan penelaahan para sarjan a sejak itu. Setelah lima puluh tahun, sejarahwan
Perancis, Mabillean, dengan swangat percaya diri menyatakan bahwa seluruh
doktrin atomisme kalam berasal dari
India.
Akan tetapi sebuah pandangan lain ( Macdonald ) menyatakan bahwa sebagian
dari aspek atomisme kalam memang
menunjukkan adanya pengaruh India.ia menyatakan bahwa sebuah mazhab Buddhisme
India bernama Sautrantika mempunyai kepercayaan pada doktrin atomisme waktu,
yaitu bahwa waktu tidak dapat di bagi secara tak terhingga tetapi terdiri atas
momen-momen waktu atomik terpisah yang
tidak dapat dibagi-bagi lagi. Ia mendasarkan doktrin ini pada laporan filosof
Maimonides bahwa mutakallimun yakin
bahwa waktu terdiri dari momen-momen ( anat
).
Akan tetapi mengingat kompleksitas masalah yang telah kita singgung di
atas tidaklah begitu mengejutkan jika kalangan kesarjanaan belakangan ini
menemukan alasan untuk tidak sepakat dengan kesimpulan ini..Karena tidak ada
bukti jelas mengenai tersedianya teks filsafat India yang menjelaskan
doktrin-doktrin atomistik bagi mutakallimun awal .tekls-teks temuan ini tidak memberikan
bukti langsung bahwa mutakallimun awal meyakini atomisme waktu. Sesungguhnya
Maimonides sendiri hanya sekedar menyimpulkan secara logis atas dasar analisis
Aristotelian terhadap gerak sehingga dia menyimpulkan bahwa mutakallimun tentulah percaya pada atomisme waktu. Di
samping itu kini telah terbukti ada perbedaan-perbedaan signifikan antara
gambaran spesifik atomisme kalam dan gambaran atomisme Yunani dan India.
Sehingga masalah ini perlu diteliti secara keseluruhan dengan arah yang baru.
Disinilah inti persoalan mengenai pengaruh langsung India atas mutakallimun.
Selain itu yang tampak jelas adalah peran gagasan dualisme Persia dalam
pembentukan doktrin-doktrin kosmologis dan teologis mendasar tertentu dari kalam. Tentu saja ada banyak bukti
mengenai kontak awal antara mutakallimun dan
kaum dualis Manichaea ( agama mani atau agama manyu ) Persia, sesuatu yang
banyak melahirkan literatur kalam
polemis tentang gagasan dualis. Minat mutakallimun pada dualisme dan kontak
mereka dengan kaum dualis Persia semestinya tidak mengherankan kita. Secara
historis suasana ini tidak dapat dielakkan karena para penakluk Muslim mewarisi
suatu populasi cukup besar para penganut Manichaea di dalam wilayah mereka yang
meluas. Dan secara filosofis hal ini masuk akal mengingat perhatian intens para
mutakallimun terhadap masalah
sebab-akibat.
Mutakallimun umumnya menolak gagasan tentang sebab-akibat
alamiah (natural causation ), yaitu
bahwa segalan sesuatu itu mempunyai tabiat atau sifat dasar yang menjadikan
atau menyebabkan mereka itu niscaya ada. Bagi mutakallimun karakteristik raga jasmaniah tidal lahir suatu
“ tabiat “ atau kualitas-kualitas permanen yang tak dapat diubah-ubah;
sebaliknya karakteristik ini dapat direduksi baik secara logis maupun secara
fisis menjadi atom-atom dan aksiden yang diciptakan Tuhan, satu-satunya Agen
atau pelaku Aktif ( ‘Amil, Fa’al ).
Sesungguhnya satu-satunya pengatur, pemelihara, dan penyebab kosmos adalah
Tuhan, bukan prisip gelap dan terang, serta bukan entitas lainnya.
Selain itu, ada aspek teologis pada keterlibatan para mutakallimun dengan Manichaeanisme. Seperti kita ketahui
bahwa banyak teks dualis yang di tulis di dalam wilayah imperium Islam awal
menyerang ajaran-ajaran dasar Islam seperti kenabian dan wahyu. Secara efektif
inilah serangan atas Nabi sekaligus Al-Quran. Serangan atas gagasan mengenai
kenabian dan wahyu juga datang dari beberapa individu pemikir bebas dalam
sejarah intelektual Islam periode awal. Diantara mereka adalah alkemis dan
dokter Persia terkenal dari Rayy, Abu Bakr Al-Razi ( w. 313 H/925 M ) yang dikenal sebagai
Rhazes yang dihormati di Barat Latin.
Di samping itu dia juga bertentangan dengan para pengikut Aristoteles.
Menurutnya bahwa penciptaan temporal dunia dan menetapkan dalam kosmogoninya
lima prinsip yaitu azali (pre-eternal):
Pencipta (al-bari), Jiwa ( al-nafs), Materi (al-hayula), Waktu (al-dahr)
dan Ruang ( al-makan ).
Tradisi falsafah Islam yang kaya dan sanggup bertahan, sesuatu yang oleh
para sarjana Barat biasanya di anggap sebagai satu-satunya ungkapan filsafat
Islam adalah suatu tradisi yang ada setelah kalam. Tradisi falsafah memperoleh
gagasan mendasarnya dari karya-karya Yunani terjemahan, setia menggunakan
logika Aristotelian, bekerja dalam kerangka metafisika Neoplatonik, dan secara
intelektual kurang menghormati mutakallimun.
Jika para figur terhellenisasi
seperti Al-Kindi, Al-Farobi dan Ibn Sina ini yang dikenal sebagai falasifah dalam tradisi Islam adalah
satu-satunya wakil dari filosof spekulatif Islam, maka tradisi India – Persia
pra – Islam tampaknya kurang mempunyai peran penting bahkan dalam sejarah
intelektual Islam, sekalipun di sini sumber-sumber India telah ditemukan oleh
sejumlah sarjana dalam sebagian ucapan-ucapan visioner Ibn Sina, sementara
doktrin-doktrin isyraqi Suhrawardi banyak mengambil dari sumber-sumber persia
kuno.
Dalam tradisi astronomi Islam disebut pertama kali karena merupakan
bidang yang paling banyak dipelajari dapat diidentifikasi tiga umsur yang
menentukan perjalanan perkembangannya. Unsur pertama adalah konsep astronomi
matematis Yunani, konsep yang kebanyakan non-Ptolemaik yang diubah dengan cara
yang lain, oleh tradisi-tradisi lokal Persia dan India. Unsur kedua,
tradisi-tradisi astronomis Yunani-Suryani yang sebagian bersifat Ptolemaik dan
tradisi Bizantium. Sedangkan unsur ketiga adalah perkembangan astronomi
matematis yang esensinya Ptolemaik, tetapi dengan tambahan parameter-parameter
baru, dan pemecahan-pemecahan baru bagi masalah-masalah dalam trigonometri bola
dari India cenderung menggantikan pemecahan-pemecahan Almagest.
Lama sebelum kelahiran Islam, orang Persia sudah akrab tidak hanya dengan
Almagest tetapi juga dengan teks-teks
astrologi Yunani dan India melalui terjemahan yang disponsori para penguasa
Dinasti Sassaniyyah terdahulu, seperti Ardashir dan Shapur, sekitar pertengahan
abad ke-5 M, sebuah him[punan tabel astronomi kerajaan, Zik-i Syahryaran, disusun. Zik ( tabel-tabel astronomi, bahasa Arab
zij ) ini memuat beberapa parameter
yang berasal dari mazhab Brahmapaksha India yang sudah ada pada abad ke-5, dan
yang di dalamnya terintegrasi beberapa bahan dari Yunani. Akhirnya selama
pemerintahan Yazdigird, kaisar Sassanian yang terakhir, dibuatlah versi lain
dari Zik-i Syahryaran, yang juga
menggabungkan unsur-unsur Persia, Yunani dan India; inipun dikenal di Dunia
Islam dengan baik.
Maka, akan kelihatan bahwa peran tradisi Persia – India dalam
perkembangan astronomi Islam cukup besar. Sesungguhnya banyak astronom Islam
awal adalah orang Persia seperti Al-Naubakht Al-Farisi, Ibn Al-Farukhan,
Al-Thabari, Yahya ibn Abi Manshur serta Musa Al-Khawarazmi , yang merupakan
astronom yang bekerja di Dunia Islam. Baik dalam bidang kedokteran,
trigonometri maupun dalam bidang matematika. Kontribusi teknik kuantitatif
India dalam perkembangan tradisi matematika Islam merupakan fenomena yang cukup
dikenal. Ini diakui oleh setiap orang ketika berbicara tentang angka Arab-angka
dari 1 hingga 9 dan 0 yang berlaku dalam sistem desimal.
Sistem ini sebenarnya merupakan sistem angka India yang secara sistematis
diperkenalkan ke dunia sains oleh seorang ahli matematika dan astronomi
terkemuka asal Persia, yaitu Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi ( w. 233 H/847 M
). Kemudian unsur apapun yang diterima Islam dari India dan Persia telah
ditransformasikan dan diasimilasikan ke dalam sebuah kerangka yang bersifat
Islami. Berbagai sistem dan gagasan yang diambil alih itu difungsikan dalam
kerangka yang baru ini sebagai unsur-unsur yang integral dari sebuah sintesis
intelektual yang unik, sebuah sintesis yang mengandung pemikiran asli Islam.
Dalam perkembangannya ketika Islam mengkristal menjadi sebuah tradisi yang
sepenuhnya telah berkembang dan independen, Persia dan India telah terserap
sepenuhnya ke dalam kerangka Islam. Sementara itu India sekali, ketika Sind
mencapai kemerdekaan politik dan administratif dari kekuasaan ke Khalifahan, India
sekali lagi menjadi wilayah yang jauh dan asing dari Islam.
C. Kesimpulan
Perkembangan filsafat yang menjadi peradaban,
baik oleh bangsa barat atau kaum muslim adalah merupakan proses peralihan dari
tradisi-tradisi yang berkembang di Yunani, Suryani, India dan Persia. Dengan
pelajaran yang berharga kaum muslim dapat mentransformasi khasanah ilmu-ilmu
asing ( Hellenistik ) baik yang berasal dari tokoh Plato dan Aristoteles serta
para muridnya. Sehingga menghasilkan suatu ilmu yang tak terhingga nilainya
yang banyak diterjemahkan dalam bahasa Arab.
Proses penyebaran
gagasan-gagasan India dan Persia ke Dunia Islam dan pengaruhnya atas pemikiran
Islam merupakan wujudf dan pergulatan doktrin yang melibatkan modifikasi maupun
transformasi yang terkena pengaruh Hellenistik dari Yunani, dan bahkan India
dan Persia menerimanya gagasan Yunani. Yang kesemuannya itu sebagai suatu
kompleksitas yang harus diterima baik pada masa pra Islam dan pada akhirnya
yang di warisi oleh Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar