Rabu, 11 Desember 2013

Latarbelakang Yunani, Suryani India dan Persia

"+"

LATAR BELAKANG 
YUNANI, SURYANI, INDIA DAN PERSIA



PENDAHULUAN
Ada berbagai cara untuk mendekati sejarah filsafat Islam. Hingga kini , pendekatan yang paling lazim adalah mengkaji para pemikir terkemuka dan menempatkan mereka sebaik-baiknya dalam kontek zaman mereka. Ada beberapa kelebihan dan keuntungan dari cara pendekatan ini dalam hal bahwa cara ini menjadikan figur-figur intelektual itu dikenal dengan baik dan cara ini juga mengkaitkan filsafat Islam dengan aspek-aspek lain dari kebudayaan periode yang bersangkutan. Namun pendekatan ini sering cenderung lebih terfokus pada individu pemikirnya dari pada gagasan filsafatnya, dan ada bahayanya yaitu memperlakukan filsafat Islam lebih sebagai elemen dari sejarah gagasan-gagasan dari pada sebagai bagian dari sejarah filsafat.
Ada kesan kuat yang berkembang dikalangan sarjana barat, baik yang muslim maupun yang bukan muslim bahwa filsafat Islam adalah tidaklah benar-benar Islam, filsafat Islam tidak lebih dari sekedar filsafat Yunani dalam bahasa Arab. Hal ini merupakan penyambung peradaban Yunani. Filsafat Islam mungkin dapat dianggap sebagai sejenis filsafat yang dihasilkan oleh kaum muslim walaupun dalam bentuk yang sempit. Banyak filsafat yamg dihasilkan oleh kaum non muslim. Meskipun  demikian perndekatan ini mungkin membawa kesulitan interpretasi. Mungkin ada pembaca yang mengamati bahwa Al-Farabi menggunakan terminologi religius untuk mengunkapkan suatu masalah fisafat Yunani dan mereka barangkali berpendapat bahwa apa yang dilakukan Al-Farabi adalah menunjukkan bahwa bentuk pemikiran  Yunani itu sesuai dan selaras dengan Islam.
Oleh karenanya untuk mengetahui lebih luas tentang filsafat Islam maka perlu mengkaji latar belakang Yunani dan Suryani serta India dan Persia agar pemahaman kita tentang hubungan filsafat Islam dengan asal usul Yunani dan lainnya lebih jelas. Semua itu untuk membuktikan adanya kesinambungan dan keterkaitan dengan gerakan intelektual besar dalam sejarah dunia dan letak pentingnya sebagai unsur pembentuk kebudayaan dunia

A. Latar belakang Yunani dan Suryani

Filosof Islam, failasuf, terlibat dalam sejenis kegiatan pencarian dan penyelidikan yang biasanya dimasukkan bersama ilmu kedokteran, matematika, astronomi, dan fisika. Hal ini termasuk dalam katagori “ilmu-ilmu asing’. Kategori ini sangat rapi dan wajar terjadi di lingkaran Islam: ”ilmu-ilmu asing” dihadapkan secara berseberangan dengan “ilmu-ilmu Islam”. Walaupun telah mempertimbangkan asal usul dari dua kumpulan pengetahuan ini. Pembedaan semacam ini juga mengandaikan bahwa kita mungkin berbeda dalam suatu perbedaan akademik : Kutukulum ysng boleh jadi mewakili dua mazhab atau berada dalam model Universitas Eropa abad pertengahan yaitu dua fakultas yang berbeda didalam lembaga pendidikan tinggi yang sama.
Pada kenyataanya, pertimbangan dan penilian historis ini benar. Failasuf, seperti dokter dan ilmuan memasuki usaha intelektual yang asal usul hellenistiknya sama transparan dengan namanya. Failasuf adalah philosophos, para ahli waris suatu tradisi intelektual yang berasal dari Yunani kemudian diwariskan tanpa rusak ataupun berkurang lalu menjadi milik dunia Islam. Itulah kebijaksanaan yang diterima oleh kaum muslim pada abad ke-9 H dan ke-10 H. dan faktanya tidak jauh berbeda dari keadaan yang di ilustrasikan. Yang jauh dari fakta tersebut adalah pendapat bahwa ilmu-ilmu “asing” atau helenis merupakan bagian dari kurikulum akademik atau fakultas dalam madrasah-madrasah resmi. Kurikulum yang memuat ilmu-ilmu semacam itu memang kurikulum ideal tetapi hanya dalam lingkup akademis yang tidak banyak diketahui atau bahkan dibayangkan oleh sarjana-sarjana sufi, meskipun falsafah sudah diajarkan diberbagai madrasah dalam dunia Syi’ah.
Dalam pandangan Islam yang terlibat dalam ilmu-ilmu asing, mereka adalah ahli waris Aristoteles dan Plato. Filosof-filosof tadi dikenal dalam dunia Islam, tetapi posisi dan peranannya dalam sejarah filsafat Yunani sedikit sekali diketahui. Kita (barat), dalam hal ini cukup banyak mempunyai informasi subyek yang bersangkutan, paling tidak tiga atau empat abad pertama pada zaman Kristen. Akan tetapi pengetahuan kita terlampau sedikit dan agak kabur begitu mendekati tahap – tahap perkembangan abad ke- 5, ke-6, dan ke-7 M tradisi Platonic dan Aristotelian yang banyak diwarisi oleh kaum muslim. Sebagian besar teks yang kita miliki, dimiliki pula oleh kaum muslim, meski tidak banyak yang terselamatkan hingga sekarang. Hal-hal yang barangkali berbeda adalah cara menindaklanjuti teks-teks tersebut: bagaimana melacak pewarisnya dan perubahan yang dilakukan kemudian pada filsafat Plato dan Aristoteles ditangan para komentatornya, yang kesemuanya adalah para guru besar di Universitas-universitas Imperium Romawi Timur.
Memahami falsafah tidak hanya cukup menerima dan mengakui apa yang kaum muslim ketahui tentang Plato dan Aristoteles, mencatat karya-karya mana dari para guru yang diterjemahkan, bagaimana dan oleh siapa serta kapan., sejumlah tolok ukur harus diambil untuk mengetahui kualitas platonisme dan aristotelianisme yang mereka warisi, yang berubah menjadi sangat berbeda dengan para pendahulu mereka. Untuk memeriksa hal itu, kita harus melihat catatan terlengkap dan terbaik kaum muslim sendiri yang diberikan oleh Ibn Al-Nadim untuk merekonstruksi dengan bantuan kesaksianya yaitu tradisi filosofi zaman kuno akhir yang kompleks.
Pada 377 H/987 M, seorang penjual buku yang bernama Abu Al-Faraj Muhammad ibn Al-Nadim menyelesaikan Fihrist atau Catalogue (katalog). Fihrist tidak lebih dari sekedar ensiklopedi abad ke 10 M tentang seni leterer dan ilmu-ilmu Islam. Selain itu fihrist juga memberikan perhatian khusus pada kegiatan penerjemahan kaum Muslim sehingga ia merupakan salah satu petunjuk yang baik bagi kita tentang pemahaman mereka mengenai lanskap filisofis dan ilmiah dunia Islam pada zaman kuno akhir. Dengan fihrist kita dapat mengambarkan agak terperinci seberapa bersar dan apa saja jenis warisan ”asing” yang tersedia bagi kaum Muslim.
Dua unsur luar biasa Hellenisme yang diwarisi atau di ambil alih oleh Islam nampak jelas dari halaman Ibn Nadim. Nilai-nilai literer, politik dan filsfat atau yang disebut Hellenisme dapat mengubah budya-budaya lain, bahkan budaya-budaya religius sebelumnya, tetapi umumnya melalui kaum cerdik pandai yang telah mempelajari bahasa Yunani. Namun persinggungan antara Hellenisme dengan Islam sangat luar biasa : kaum muslim tidak menerima bahasa, nilai-nilai humanistik dan agama orang Yunani. Peminjaman Muslim hadir melalui penerjemahan dan sangat terbatas pada Hellenisme yang berwajah teknis dan ilmiah. Kaun muslim mengenal filsafat Yunani, tetapi tidak menguasai bahasa Yunani; mereka membaca karya-karya Plato, Aristoteles, Galen tapi hanya sedikit yang membaca karya Homer, Sophocles dan lain-lain.
Pemisahan unsur-unsur Yunani dari cita idealnya ini mencerminkan praktek-praktek pendidikan zaman kuno akhir. Pada saat itu pendidikan tinggi begitu professional sehingga dimungkinkan untuk memasukkan kurtikulum ilmu-ilmu kealaman, kedokteran dan filsafat tanpa memberi kerangka bahwa semua itu merupakan bagian dari enkykliospaideia, suatu pendidikan umum yang didalamnya mencakup bahasa dan retorika.
Namun ada satu tempat penting pada zaman kuno akhir yang kendatipun memiliki standar professional yang tinggi dalam filsafat, kedokteran, dan ilmu-ilmu matematika, tidak berminat pada retorika. Mesir dengan pusat intelektualnya yang besar, yaitu Alexandria ( Iskandariah ) menyesuaikan diri setepat-tepatnya dengan sumber hipotesis versi Hellenisme Muslim yang ilmiah tetapi kurang liberal.
 Universitas di Alexandria pada abad ke-7 M mempunyai kurikulum yang maju dalam bidang filsafat dan sains tetapi lemah dalam retorika atau ilmu-ilmu humaniora dan hukum.  Yang jelas bahwa apapun kandungan aktual filosofis mereka, kaum muslim menganggap Aristoteles adalah sebagai tetua dari sekumpulan orang bijak Hellenis, sedangkan Al-Farabi, Platonis Muslim yang paling menonjol dikaitkan bukan dengan Plato melainkan dengan Aristoteles ketika dia disebut “Guru Kedua“. Tinjauan Fihrist atas para filosof pasca-Aristoteles memperlihatkan perspektif yang sama, seperti Theophratus, Proclus “Sang Platonis”, Alexander Aphrodisias, Porphyry, Ammonius ( Hermieu ), Themistius.
Dari situ, adalah mungkin bagi kita walaupun tidak bagi Ibn Nadim dan para tokoh semasanya, untuk melacak hubungan dengan Porphyry abad ke 4 M yaitu orang yang telah memperkenalkan tafsir-tafsir tekstual tentang Aristoteles dalam kurikukum sekolah-sekolah mazhab Platonic.
Menurut tradisi mazhab paska porpyrian ada dua cabang utama filsafat :
1.      Perwujudan realitas fisik
2.      Perenungan realitas supra-indriawi
Yang pertama dikenal dengan istilah fisika sedangkan yang ke-2 dikenal dengan istilah teologi. Pada pandangan Aristotelian yang asli logika adalah metode, atau suatu instrumen, alat atau organ (organon), bukan bagian dari filsafat. Hal ini berbeda dengan ajaran Plato yang menyatukan antara dialektika dan metafisika, filsafat dan cara berfilsafat. Porphyry menerapkan organon logis pada awal kurikulum. Dari organon, kaum platonis melangsungkan study tentang filsafat Aristotelian secara sungguh-sungguh khususnya risalah-risalah fisika dan psikologi.
Dapat dipastikan, inilah kurikulum standart di satu-satunya sekolah filsafat yang masih bertahan pada zaman kuno akhir itu yakni sekolah Platonic. Akan tetapi filsafat yang dibawa kaum muslim adalah yang berasal dari contoh terjemahan “pengantar Aristoteles”. Pemetaan risalah-risalah Aristotelian dari categories sampai metaphisics  yang dijumpai dalam fihristnya Ibn al-Madin dan yang menentukan struktur sebagian besar ensiklopedi “ilmu-ilmu asing” kamum muslim, hal itu bukanlah kurikulum melainkan suatu pemetaan ilmu akademik. Salah satu faktanya adalah baik kaum muslim maupun barat tidak mempunyai cukup banyak informasi tentang kurikulum dari suatu madzhab Aristotelian yang sebenarnya.
Penghormatan kaum muslim kepada Aristoteles merupakan hal yang baru di Timur Dekat. Selama 5 abad sebelumnya setiap orang belajar filsafat dengan suatu fragmatisme yang jauh lebih terbatas dari pada pendekatan yang dilakukan kaum muslim. Kaum neo Platonis memberi Aristoteles tempat dalam kurikulum mereka, akan tetapi orang Kristen pun lebih ketat membatasi pemakaian filsafat Aristoteles.
Namun pemakaian Aristoteles oleh orang Kristen malah lebih penting dari pada pembatasan terhadapnya. Karya besar kaum neo platonis tidak muncul dalam bahsa lain, kecuali bahasa aslinya yaitu Yunani hingga kedatangan Islam. Sedangkan karya Aristoteles menggunakan bahasa Suryani meskipun dalam kapasitas terbatas, meskipun literatur berbahsa Suryani yang merupakan kreasi pada masa-masa Kristen, bangsa berhasa Aramaik di Timur Dekat sudah hidup di lingkungan terhelenisasi sejak masa penaklukan Alexander yang Agung. Jika di Edessa kontak antara bangsa Aramea dan bangsa Hellen menghasilkan suatu literatur yang mempunyai sentimen dan kepentingan Kristen berlebihan, maka kontak yang sama di Harran terjadi percampuran budaya yang berkarakter jauh berlainan: pagan, ilmiah dan penuh tahayul, alih-alih meditatif, asketik, musikal dan terutama bercorak Kristen. Di Harran tidak menghasilkan literatur hingga masa penaklukan muslim, tetapi apa yang terjadi bahwa ilmu-ilmu Yunani hidup di sejumlah pusat Semitik Timur Dekat untuk jangka waktu cukup lama dan tidak semua keturunannya Hellenis.
Para teolog Antiokia merupakan kelompok yang dikatakan sebagai penafsir dari pada ahli metafisika dalam tradisi Alexadria. Menurutnya bahwa logika Aristotelian lebih bermanfaat dari pada teologi Plato, penafsir utama mdzhab Antiokia adalah Theodore Mopsuestian (W. 428 M). Apapun penilaian terhadap ortodoxinya Theodore Mopsuestian bagi orang Suriah Timur memiliki posisi yang sama yaitu sebagai penafsir otoritatif kitab suci Kristen. Selama hayat Theodore Mopsuestian pengajaran tafsir Kristen diawali dengan pengajaran logika Aristotelian, karena pengenalan karya-karya Theodore Mopsuestian dan metode ke sekolah berbahasa Suryani di Eddesa ditandai dengan munculnya organon dalam kurikulum. Begitu juga di Nisibis kurikulum yang digunakan bersifat teologis. Yang akhirnya sekolah Nissibib di pimpin oleh Hennana yang setelah menjalani karir selama 30 tahun sebagai ahli “Tafsir” dan setelah itu sekolah nissibis tidak pernah lagi di pulihkan, penyebabnya adalah Hennana akan mengganti Theodore dan menganti tradisi tafsir antiokia dengan sesuatu yang lebih cocok dengan tradisi platonik dan akexandrian, suatu posisi yang membuat ia dima para kolega terkesan mengkhiananti kistologi dan menyeberang ke pihak monofisit.
Pada masa Henana logika Aristhotelian benar-benar dipribumikan dalam bahasa suryani dan menandai pendidikan baik para penafsir maupun theolog Kristen, yang merupakan kaum cerdik-pandai Suriah timur. Study Kedokteran juga tumbuh dan berkembang, kurikulumnya diterjemahkan kedalam bahasa Suryani oleh orang Suriah Barat awal abad ke 6 M dan pastilah sudah digunakan di wilayah yang sedang tumbuh menjadi pusat kedokteran terpenting di Jundishapur, Kuzistan (Persia). Bahannya bersifat Hellenik dan Hellenistik, tetapi studinya tidak mesti berupa pengetahuan Yunanai. Satu-satunya agamawan gereja Suriah Timur abad ke 6 M adalah Mar Aba, yang belajar di Nissibis, tetapi harus pulang ke Edessa (Bizantium) untuk belajar bahasa Yunani.

B. Latar Belakang India Dan Persia

Proses penyebaran gagasan-gagasan India dan Persia ke Dunia Islam dan pengaruhnya atas pemikiran Islam merupakan masalah yang sangat pelik bagi para sejarawan. Sejak dahulu, tukar-menukar gagasan telah berlangsung antara India dan Persia, lama sebelum kemunculan Islam. Proses ini antara lain, terwujud dalam pergulatan doktrinal dan, ini melibatkan banyak modifikasi, bahkan transformasi, pada gagasan-gagasan suatu komunitas oleh tradisi lokal komunitas lainnya. Maka, baik India maupun Persia terkena pengaruh Hellenistik meskipun dalam kadar yang beragam. Banyak gagasan dan sistem Yunani yang akhirnya menjangkau India dan Persia tidak secara langsung berasal dari pusat-pusat ilmu Hellenistik di Timur Dekat, tetapi secara tidak langsung dari satu sama lain (India dan Persia) setelah mengalami perlakuan-perlakuan lokal. Pada saat yang bersamaan, yang menjadikan situasinya bahkan lebih rumit, baik India maupun Persia secara langsung juga juga menerima gagasan Yunani, dengan bantuan terjemah-terjemahan teks Yunani Asli. Kesemuanya ini menimbulkan jalinan kompleks intelektual dari apa yang biasa disebut sebagai etos India-Persia pra Islam, dan jalinan kompleks inilah yang kemudia diwarisi Islam.
Sekali lagi, dalam fase formatif tradisi filsafat dan keilmuan Islam sendiri, gagasan-gagasan mengalir ke dalamnya dari berbagai sumber, dan disini terbentuklah situasi kompleks lebih lanjut. Ketika Alexandria jatuh ke tangan kaum Muslim pada 641 M, penaklukan Arab Muslim atas Timur Dekat menjadi tuntas, dan bersamaan dengan ini hadirlah kemudian peninggalan akademi terhellenisasi yang berkembang dengan sejumlah variasi selama enam abad pertama zaman Kristen. Diantaranya  adalah pusat-pusat pendidikan (berbahasa) Suryani yang terdapat di Edessa (Al Ruha, Urfa moder sisi timur Eufrat hulu) Nisibis (dekat Sungai Tigris hulu, barat laut Mosul), Resain, Kinnesrin, Homs dan Baalbek (Heliopolis). Kota yang juga ditaklukkan oleh kaum muslim adalah pusat ilmu Harran, yang terletak tidak jauh di selatan Eddesa. Harran terutama menjadi tempat para penyembah bintang yang melestarikan agama asli dan pengaruh dari dunia Timur yang cukup jauh – termasuk dalam pengaruh ini, penting untuk dicatat, adalah pengaruh-pengaruh India.
Akan tetapi, ini hanya menggambarkan sebagian dari apa yang diwarisi kaum Muslim. Pada 651 M  Syah  dari Dinasti Sassaniyah terakhir meninggal dan Persia sepenuhnya masuk ke dalam pangkuan Islam. Kawasan ini nantinya memberikan unsur-unsur tambahan bagi sumber intelektual Islam yang sedang berkembang. Salah satu unsur penting dari sudut pandang kita kali ini disumbangkan oleh akademi Jundishapur di Persia Selatan yang mencapai puncak kefayaannya sekitar pertengahan abad ke-6 M selama pemerintahan Anusyirwan. Akhirnya Jundishapur telah menjadi tempat kelahiran berbagai kegiatan intelektual ketika pada 489 M Kaisar Zeno menutup Akademi Edessa. Oleh karena itu dengan sumberdaya akademik yang melimpah dan kesediaanya menampung pelbagai individu, Jundishapur mulai berperan sebagai gelanggang pertukaran ilmu persia, Yunani, Roma, Suryani dan India.
Karena kompleksitas saluran yang dilalui gagasan-gagasan asing untuk memasuki dunia Islam awal dan karena pertukaran intelektual yang berlangsung di dalam saluran ini yang di dalamnya banyak gagasan asli dimodifikasi, diintegrasikan dan di rombak sangat sulit memberikan ulasan yang sederhana dan rapi tentang peran gagasan India dan persia dalam perklembangan pemikiran Islam. Pada kenyataannya masalah itu lebihn diperumit lagi oleh fakta bahwa terjemahan-terjemahan bahasa Arabdari teks-teks berbahasa sanskrit, Pahlawi, dan Suryani dilakukan dalam fase terawal sejarah intelektual Islam, padahal pada akhir fase tersebut para penerjemah mengarahkan perhatian mereka hampir sepenuhnya pada karya-karya Yunani.
Para sarjana kontemporer pernah juga berbicara tentang pengaruh India atas doktrin-doktrin kosmologis kalam , tradisi filsafat atomistik aristotelian Islam, yang sering di sebut secara agak menyesatkan sebagai teologi skolastik Islam. Mulai diperkenalkan ke dunia kesarjanaan modern oleh Schmolders pada 1840-an, masalah pengaruh India atas kalam ini banyak mendapatkan perhatian dan penelaahan para sarjan a sejak itu. Setelah lima puluh tahun, sejarahwan Perancis, Mabillean, dengan swangat percaya diri menyatakan bahwa seluruh doktrin atomisme kalam berasal dari India.
Akan tetapi sebuah pandangan lain ( Macdonald ) menyatakan bahwa sebagian dari aspek atomisme kalam memang menunjukkan adanya pengaruh India.ia menyatakan bahwa sebuah mazhab Buddhisme India bernama Sautrantika mempunyai kepercayaan pada doktrin atomisme waktu, yaitu bahwa waktu tidak dapat di bagi secara tak terhingga tetapi terdiri atas momen-momen waktu atomik terpisah  yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Ia mendasarkan doktrin ini pada laporan filosof Maimonides bahwa mutakallimun yakin bahwa waktu terdiri dari momen-momen ( anat ).
Akan tetapi mengingat kompleksitas masalah yang telah kita singgung di atas tidaklah begitu mengejutkan jika kalangan kesarjanaan belakangan ini menemukan alasan untuk tidak sepakat dengan kesimpulan ini..Karena tidak ada bukti jelas mengenai tersedianya teks filsafat India yang menjelaskan doktrin-doktrin atomistik bagi  mutakallimun  awal .tekls-teks temuan ini tidak memberikan bukti langsung bahwa  mutakallimun  awal meyakini atomisme waktu. Sesungguhnya Maimonides sendiri hanya sekedar menyimpulkan secara logis atas dasar analisis Aristotelian terhadap gerak sehingga dia menyimpulkan bahwa  mutakallimun  tentulah percaya pada atomisme waktu. Di samping itu kini telah terbukti ada perbedaan-perbedaan signifikan antara gambaran spesifik atomisme  kalam  dan gambaran atomisme Yunani dan India. Sehingga masalah ini perlu diteliti secara keseluruhan dengan arah yang baru. Disinilah inti persoalan mengenai pengaruh langsung India atas  mutakallimun.
Selain itu yang tampak jelas adalah peran gagasan dualisme Persia dalam pembentukan doktrin-doktrin kosmologis dan teologis mendasar tertentu dari kalam. Tentu saja ada banyak bukti mengenai kontak awal antara mutakallimun dan kaum dualis Manichaea ( agama mani atau agama manyu ) Persia, sesuatu yang banyak melahirkan literatur kalam polemis tentang gagasan dualis. Minat  mutakallimun pada dualisme dan kontak mereka dengan kaum dualis Persia semestinya tidak mengherankan kita. Secara historis suasana ini tidak dapat dielakkan karena para penakluk Muslim mewarisi suatu populasi cukup besar para penganut Manichaea di dalam wilayah mereka yang meluas. Dan secara filosofis hal ini masuk akal mengingat perhatian intens para  mutakallimun terhadap masalah sebab-akibat.
Mutakallimun  umumnya menolak gagasan tentang sebab-akibat alamiah (natural causation ), yaitu bahwa segalan sesuatu itu mempunyai tabiat atau sifat dasar yang menjadikan atau menyebabkan mereka itu niscaya ada. Bagi  mutakallimun  karakteristik raga jasmaniah tidal lahir suatu “ tabiat “ atau kualitas-kualitas permanen yang tak dapat diubah-ubah; sebaliknya karakteristik ini dapat direduksi baik secara logis maupun secara fisis menjadi atom-atom dan aksiden yang diciptakan Tuhan, satu-satunya Agen atau pelaku Aktif ( ‘Amil, Fa’al ). Sesungguhnya satu-satunya pengatur, pemelihara, dan penyebab kosmos adalah Tuhan, bukan prisip gelap dan terang, serta bukan entitas lainnya.
Selain itu, ada aspek teologis pada keterlibatan para  mutakallimun  dengan Manichaeanisme. Seperti kita ketahui bahwa banyak teks dualis yang di tulis di dalam wilayah imperium Islam awal menyerang ajaran-ajaran dasar Islam seperti kenabian dan wahyu. Secara efektif inilah serangan atas Nabi sekaligus Al-Quran. Serangan atas gagasan mengenai kenabian dan wahyu juga datang dari beberapa individu pemikir bebas dalam sejarah intelektual Islam periode awal. Diantara mereka adalah alkemis dan dokter Persia terkenal dari Rayy, Abu Bakr Al-Razi     ( w. 313 H/925 M ) yang dikenal sebagai Rhazes yang dihormati di Barat Latin.
Di samping itu dia juga bertentangan dengan para pengikut Aristoteles. Menurutnya bahwa penciptaan temporal dunia dan menetapkan dalam kosmogoninya lima prinsip yaitu azali (pre-eternal): Pencipta (al-bari), Jiwa (  al-nafs), Materi (al-hayula), Waktu (al-dahr) dan Ruang ( al-makan ).
Tradisi falsafah Islam yang kaya dan sanggup bertahan, sesuatu yang oleh para sarjana Barat biasanya di anggap sebagai satu-satunya ungkapan filsafat Islam adalah suatu tradisi yang ada setelah kalam. Tradisi falsafah memperoleh gagasan mendasarnya dari karya-karya Yunani terjemahan, setia menggunakan logika Aristotelian, bekerja dalam kerangka metafisika Neoplatonik, dan secara intelektual kurang menghormati mutakallimun.  Jika para figur terhellenisasi seperti Al-Kindi, Al-Farobi dan Ibn Sina ini yang dikenal sebagai falasifah dalam tradisi Islam adalah satu-satunya wakil dari filosof spekulatif Islam, maka tradisi India – Persia pra – Islam tampaknya kurang mempunyai peran penting bahkan dalam sejarah intelektual Islam, sekalipun di sini sumber-sumber India telah ditemukan oleh sejumlah sarjana dalam sebagian ucapan-ucapan visioner Ibn Sina, sementara doktrin-doktrin isyraqi Suhrawardi banyak mengambil dari sumber-sumber persia kuno.
Dalam tradisi astronomi Islam disebut pertama kali karena merupakan bidang yang paling banyak dipelajari dapat diidentifikasi tiga umsur yang menentukan perjalanan perkembangannya. Unsur pertama adalah konsep astronomi matematis Yunani, konsep yang kebanyakan non-Ptolemaik yang diubah dengan cara yang lain, oleh tradisi-tradisi lokal Persia dan India. Unsur kedua, tradisi-tradisi astronomis Yunani-Suryani yang sebagian bersifat Ptolemaik dan tradisi Bizantium. Sedangkan unsur ketiga adalah perkembangan astronomi matematis yang esensinya Ptolemaik, tetapi dengan tambahan parameter-parameter baru, dan pemecahan-pemecahan baru bagi masalah-masalah dalam trigonometri bola dari India cenderung menggantikan pemecahan-pemecahan Almagest.
Lama sebelum kelahiran Islam, orang Persia sudah akrab tidak hanya dengan Almagest tetapi juga dengan teks-teks astrologi Yunani dan India melalui terjemahan yang disponsori para penguasa Dinasti Sassaniyyah terdahulu, seperti Ardashir dan Shapur, sekitar pertengahan abad ke-5 M, sebuah him[punan tabel astronomi kerajaan, Zik-i Syahryaran, disusun. Zik ( tabel-tabel astronomi, bahasa Arab zij ) ini memuat beberapa parameter yang berasal dari mazhab Brahmapaksha India yang sudah ada pada abad ke-5, dan yang di dalamnya terintegrasi beberapa bahan dari Yunani. Akhirnya selama pemerintahan Yazdigird, kaisar Sassanian yang terakhir, dibuatlah versi lain dari Zik-i Syahryaran, yang juga menggabungkan unsur-unsur Persia, Yunani dan India; inipun dikenal di Dunia Islam dengan baik.
Maka, akan kelihatan bahwa peran tradisi Persia – India dalam perkembangan astronomi Islam cukup besar. Sesungguhnya banyak astronom Islam awal adalah orang Persia seperti Al-Naubakht Al-Farisi, Ibn Al-Farukhan, Al-Thabari, Yahya ibn Abi Manshur serta Musa Al-Khawarazmi , yang merupakan astronom yang bekerja di Dunia Islam. Baik dalam bidang kedokteran, trigonometri maupun dalam bidang matematika. Kontribusi teknik kuantitatif India dalam perkembangan tradisi matematika Islam merupakan fenomena yang cukup dikenal. Ini diakui oleh setiap orang ketika berbicara tentang angka Arab-angka dari 1 hingga 9 dan 0 yang berlaku dalam sistem desimal.
Sistem ini sebenarnya merupakan sistem angka India yang secara sistematis diperkenalkan ke dunia sains oleh seorang ahli matematika dan astronomi terkemuka asal Persia, yaitu Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi ( w. 233 H/847 M ). Kemudian unsur apapun yang diterima Islam dari India dan Persia telah ditransformasikan dan diasimilasikan ke dalam sebuah kerangka yang bersifat Islami. Berbagai sistem dan gagasan yang diambil alih itu difungsikan dalam kerangka yang baru ini sebagai unsur-unsur yang integral dari sebuah sintesis intelektual yang unik, sebuah sintesis yang mengandung pemikiran asli Islam. Dalam perkembangannya ketika Islam mengkristal menjadi sebuah tradisi yang sepenuhnya telah berkembang dan independen, Persia dan India telah terserap sepenuhnya ke dalam kerangka Islam. Sementara itu India sekali, ketika Sind mencapai kemerdekaan politik dan administratif dari kekuasaan ke Khalifahan, India sekali lagi menjadi wilayah yang jauh dan asing dari Islam.

C. Kesimpulan

 Perkembangan filsafat yang menjadi peradaban, baik oleh bangsa barat atau kaum muslim adalah merupakan proses peralihan dari tradisi-tradisi yang berkembang di Yunani, Suryani, India dan Persia. Dengan pelajaran yang berharga kaum muslim dapat mentransformasi khasanah ilmu-ilmu asing ( Hellenistik ) baik yang berasal dari tokoh Plato dan Aristoteles serta para muridnya. Sehingga menghasilkan suatu ilmu yang tak terhingga nilainya yang banyak diterjemahkan dalam bahasa Arab.

Proses penyebaran gagasan-gagasan India dan Persia ke Dunia Islam dan pengaruhnya atas pemikiran Islam merupakan wujudf dan pergulatan doktrin yang melibatkan modifikasi maupun transformasi yang terkena pengaruh Hellenistik dari Yunani, dan bahkan India dan Persia menerimanya gagasan Yunani. Yang kesemuannya itu sebagai suatu kompleksitas yang harus diterima baik pada masa pra Islam dan pada akhirnya yang di warisi oleh Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar