FILSAFAT
DALAM KEHIDUPAN AKADEMIK
MENUJU
PENCIPTAAN KEARIFAN-KEARIFAN
A.
Pendahuluan
Berbicara tentang filsafat,
kita tidak bisa melepaskan dari manusia itu sendiri. Sebab, filsafat ada karena
adanya filsuf1. Sehingga eksistensi
filsafat itu ada dan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan jamannya guna
mencari kebenaran yang lebih benar.
Memang, dalam setiap masa
pasti akan berbeda dengan masa sebelumnya, tentu hal ini yang akan berakibat
dan dituntut bagi setiap orang guna mencari proses kebenaran yang terus berubah
sesuai dengan zamannya, yang diakibatkan oleh perubahan masa itu sendiri dan
hal ini dipastikan membawa dampak positif dan negatifnya bagi peradaban umat
manusia, sebab kehidupan2 bukanlah
bersifat monoton atau statis.
Untuk itu tuntutan dalam
proses pencarian kebenaran harus dilakukan. Apalagi bagi sosok seorang
akademisi atau ilmuwan yang memiliki tanggung jawab sosial yang sangat besar
bagi kelangsungan kehidupan bermasyarakat3.
Dalam mencari kebenaran, ilmuwan harus senantiasa berusaha melengkapi dirinya
dengan berbudi luhur/ kebajikan, kalau ia ingin mempunyai peluang dalam
menerobos tabir rahasia keilmuan. Budi luhur/ kebajikan yang didasari oleh
berfikir secara ilmiah4 ini
misalnya kapasitas untuk kerja keras, ketabahan, keuletan, kegigihan,
ketekunan, kesetiaan pada tugas, keterbukaan untuk bekerja sama, saling
menghargai diantara rekan-rekannya serta berusaha untuk mencari yang lebih baik
demi kemaslakhatan bersama.
Dan sudah menjadi tanggung
jawab bagi setiap manusia yang mengerti untuk menyelesaikan persoalan yang
belum jelas di masyarakat yakni ilmuwan itu sendiri sebagaimana statusnya.
Tentunya dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya.
Persoalan-persoalan dunia
tidak hanya saja harus di jawab dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi
semata, yang padahal bila ditinjau lebih mendalam bahwa hancurnya tatanan dunia
ini karena kecanggihan yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan tehnologi
modern itu sendiri. Padahal tehnologi semodern apapun tidak akan mampu menggantikan
integritas atau kewibawaan tatanan sosial yang telah ia hancur. Kenyataan ini
merupakan salah satu sumber dari adanya berbagai macam krisis dewasa ini.
Tehnologi modern bukanlah
sekedar ilmu pengetahuan modern besarta hasil-hasil atau penemuan-penemuannya
yang berupa mesin-mesin, pesawat-pesawat, reaktor-reaktor ataupun fasilitas
fisik yang maju, melainkan juga termasuk organisasi, sistem dan struktur sosial
beserta kekuasaan yang tercakup di dalamnya. Kekuasaan inilah yang pada
gilirannya telah menggantikan kekuasaan “tradisional” yang ada, seperti orang
tua, lembaga pendidikan, agama baik formal maupun non formal.
Dalam kaitan lingkaran yang
visieus, maka rasionalisasi dan sekulerisasi hidup juga menjadi penyebab bagi
perkembangan tehnologi modern, sedemikian rupa sehingga kehidupan masyarakat
yang menjadi semakin mekanistik, materialistik, juga menjadi semakin kehilangan
akan nilai-nilai spiritualnya, nilai-nilai mana yang dulunya bersumber dari
kekuasaan “tradisional”. Hilangnya nilai-nilai lama dan belum hadirnya
nilai-nilai baru sebagai pengganti, merupakan salah satu penyebab dari adanya
berbagai macam krisis sosial dalam kehidupan umat manusia dewasa ini.
Lebih dari masa-masa yang sudah lampau , dunia
telah di hadapkan kepada masalah-masalah dasar yang menyangkut nilai-nilai
kemanusiaan, yang semakin lama semakin tidak menentu, serta ini merupakan
tanggung jawab yang secara sadar diberikan kepada manusia itu sendiri. Dan
filsafat mempunyai arti serta peranan yang sangat penting guna mengupayakan
untuk memahami dunia dewasa ini.
B.
Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari
kata Yunani filosofia, yang berasal
dari kata kerja filosofein, yang
berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis5
yang berasal dari kata kerja philein yang
berarti mencintai, atau philia yang
berarti cinta, dan sophia yang
berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata kedalam bahasa Inggris philosophy yang biasanya diterjemahkan
sebagai “cinta kearifan”6.
Jadi bila kita menijau
maksud dari pengertian tersebut telah tergambar dengan jelas bahwa filsafat
adalah suatu proses atau usaha yang rasional yang hasilnya bagaimana bisa
diterima oleh semua kalangan7. Maka
dengan demikian bahwa filsafat itu merupakan suatu “ajaran kehidupan”
Menurut Theodore Bramelt,
mengungkapkan bahwa filsafat sebagai usaha yang kokoh dari orang biasa maupun
orang cerdik pandai untuk dapat membuat hidup sedapat mungkin dapat di fahami
dan mengandung makna8,
sehingga hal ini menjadi satu kesatuan pandangan hidup atau ajaran tentang
nilai-nilai, makna-makna dan tujuan-tujuan dari hidup manusia di alam semesta
ini.
Berfikir secara filsafat
dapat di artikan sebagai berfikir yang sangat mendalam sampai ke
hakekat-hakekatnya, atau juga berfikir secara global/ menyeluruh. Berfikir yang
demikian ini sebagai upaya untuk dapat berfikir secara tepat dan benar serta
hasilnya pun dapat dipertanggung jawabkan dengan memuaskan. Hal ini pun harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 9
1.
Harus Sistematis
Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan untuk
menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. Sistematis dalam tahapan ini
dimaksudkan bahwa masing-masing unsur saling berkaitan antara satu dengan yang
lain secara teratur dalam satu keseluruhan. Sistematika pemikiran seorang
filosof banyak dipengaruhi oleh keadaan dirinya, lingkungan, zamannya,
pendidikan dan sistem pemikiran yang mempengaruhi.
2.
Harus Konsepsional
Secara umum istilah konsepsional berkaitan
dengan ide atau gambaran yang melekat pada akal fikiran yang berada dalam
intelektual. Gambaran tersebut mempunyai
bentuk tangkapan sesuai dengan riilnya, sehingga maksud dari
konsepsional tersebut sebagai upaya untuk menyusun suatu bagan yang terkonsepsi
dengan jelas. Karena berfikir secara filsafat sebenarnya berfikir tentang hal
dan prosesnya.
3.
Harus Koheren
Koheren atau runtut adalah unsur-unsurnya tidak
boleh mengandung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lain. Koheren atau
runtut didalamnya memuat suatu kebenaran logis. Sebaliknya, bila suatu uraian
yang didalamnya tidak memuat kebenaran logis, maka uraian tersebut dikatakan
sebagai uraian yang tidak koheren atau runtut.
4.
Harus Rasional
Yang dimaksudkan harus rasional adalah
unsur-unsurnya berhubungan secara logis. Artinya, pemikiran filsafat harus
diuraikan dalam bentuk yang logis. Yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai
kaidah-kaidah berfikir (logika).
5.
Harus
Sinoptik/Holistik
Sinoptik artinya pemikiran filsafat harus
melihat hal-hal secara menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.
6.
Harus Mengarah kepada
Pandangan Dunia
Yang dimaksudkan harus mengarah kepada
pandangan dunia adalah pemikiran filsafat sebagai upaya untuk memahami semua
realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan (hidup) dunia,
termasuk didalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada di
dalamnya (dunia).
Sehingga orang yang
memiliki semangat untuk berfilsafat menjadikan orang tersebut untuk10:
1.
bersikap anti
pemikiran yang tidak kritis.
2.
Berfikir secara kritis
dan reflektif.
3.
Berusaha untuk
memperoleh gambaran yang menyeluruh.
4.
Memiliki analisa yang
logis.
5.
Memiliki semangat
untuk bertindak bijaksana dan arif dalam memutuskan sesuatu.
C.
Manusia Dalam Kehidupan
Yang membedakan antara manusia dengan mahluk-mahluk lain ciptaan Allah di muka bumi ini adalah karena manusia di beri potensi untuk berfikir11, dengan akal tersebut manusia menjadi mahluk yang lebih tinggi derajatnya dari pada mahluk lain ciptaan Allah bahkan Malaikat sekalipun, maka dengan demikian manusia yang dianggap manusia adalah mereka yang mampu mengunakan potensinya untuk selalu menggunakan akal dalam proses berfikir, sehingga eksistensi manusia itu ada karena ia berfikir, bila ia (manusia) berhenti berfikir maka hilanglah eksistensi (nilai kemanusiaannya)12. Islam memberikan kedudukan sangat tinggi kepada akal manusia. Sampai-sampai Prof. Dr. C.A. Van Peursen menyatakan dengan tegas, bahwa akal tak dapat menyerap sesuatu dan panca indra tak dapat memikirkan sesuatu, hanya bila kedua-duanya bergabung maka timbullah pengetahuan. Menyerap sesuatu tanpa di barengi dengan akal sama dengan kebutaan, dan fikiran tanpa isi sama dengan kehampaan13. Aktifitas akal ini yang disebut dengan berfikir. Apa sebenarnya berfikir itu?, Secara umum adalah tiap-tiap perkembangan dalam idea, konsep dan sebagainya dapat di sebut berfikir, karena itu maka definisi yang paling umum dari berfikir adalah perkembangan idea dan konsep14.Dengan demikian dapat di rumuskan secara sederhananya bahwa berfikir adalah perkembangan gambaran mental manusia dalam bentuk pertimbangan khusus yang memantulkan apa yang bersifat umum (universal) dan yang bersifat hakiki (esensial) dalam rangka menangkap bermascam-macam masalah yang sedang di hadapi oleh manusia.Itulah manusia yang dengan potensi alamiahnya hendaklah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sampai-sampai seorang filsof besar mengukapkan bahwa adanya saya karena saya berfikir dan sebaliknya jika saya tidak ada maka berfikirpun tidak akan pernah ada. Sehingga dari gambaran tersebut dapat di fahami bahwa manusia dianggap memiliki eksistensinya karena manusia berfikir, demikian pula sebaliknya. Kita ingat sebuah patung15 yang termasyhur dari Auguste Rodin; yakni berwujud seorang manusia yang sedang tekun berfikir?, dilah lambang kemanusiaan kita, mahluk yang berfikir. Setiap saat dari hidupnya, sejak dia lahir sampai masuk liang lahat, dia tak pernah berhenti berfikir. Hampir tak ada masalah yang menyangkut peri kehidupan yang terlepas dari jangkauan fikirannya, dari soal paling remeh sampai soal paling asasi, dari soal yang menyangkut sarapan pagi sampai persoalan surga dan neraka di akhir nanti. Berfikir itulah yang mencirikan hakekat manusia dan karena berfikirlah dia menjadi manusia yang hidup.
D.
Filsafat Sebagai Pandangan Hidup.
Pada aitem ini penulis
menegaskan bahwa filsafat sebagai pandangan hidup16, karena filsafat pada hakekatnya
bersumber pada kodrat pribadi manusia (sebagai mahluk individu, mahluk sosial
dan mahluk Tuhan), sebagaimana penjelas-penjelasan sebelumnya. Ini berarti
bahwa filsafat mendasarkan pada pejelmaan manusia secara total dan sentral
sesuai dengan hakekat manusia sebagai mahluk monodualisme (manusia secara kodrat terdiri dari jiwa dan raga).
Manusia secara total (menyeluruh) dan sentral di dalamnya memuat segala bentuk
potensi pengetahuan yang dimiliki tanpa harus bersusah payah mencari dari luar
dirinya, sebab dari dalam dirinya pun bisa di jadikan sebagai sumber
pengetahuan yang pada akhirnya melahirkan sikap berfikir yang kreatif dan
analitis.
Filsafat sebagai pandangan
hidup merupakan sesuatu hal yang di jadikan dasar dalam setiap langkah maupun
tidakan (ation) yang menyeluruh dalam
ruang geraknya di dunia fana ini. Hal ini juga tentunya di pergunakan untuk
menyelesaikan setiap persoalan-persoalan yang di hadapi dalam hidup. Pandangan
hidupnya itu akan tercermin di dalam sikap hidup dan cara hidup. Sikap dan cara
hidup tersebut akan muncul apabila manusia mampu memahami dirinya dan
lingkungannya secara total (menyeluruh)17.
Apabila hal yang demikian
dilakukan maka sempurnalah manusia dalam mengaruhi kehidupannya, karena setiap
setiap jengkal langkahnya selalu di fikirkan secara mendalam dan bijak dalam
menghadapi suatu persoalan hidup.
E.
Kesimpulan
Dari beberapa uraian singkat diatas dapat
ditarik suatu pemahaman bahwa:
- sosok seorang akademisi atau
ilmuwan yang memiliki tanggung jawab sosial yang sangat besar bagi
kelangsungan kehidupan umat manusia pada umumnya. Karena sosok akademisi
adalah sosok memiliki profil akan kematangan dari pengetahuan yang
dimilikinya.
- Persoalan-persoalan dunia
tidak hanya saja harus dijawab dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
tehnologi semata, padahal bila ditinjau lebih mendalam bahwa hancurnya
tatanan dunia ini karena kecanggihan yang ditimbulkan oleh ilmu
pengetahuan dan tehnologi modern itu sendiri. Dan filsafat mempunyai arti
serta peranan yang sangat penting bagi upaya untuk memahami dunia dewasa
ini, karena dengan karakter filsafat akan tumbuh nilai-nilai yang akan
mengembalikan kewibawaan tatanan sosial yang telah rusak.
- Kata filsafat berasal dari
kata Yunani filosofia, yang
berasal dari kata kerja filosofein, yang
berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata
Yunani philosophis yang berasal
dari kata kerja philein yang
berarti mencintai, atau philia yang
berarti cinta, dan sophia yang
berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata kedalam bahasa Inggris philosophy yang biasanya
diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”, sehingga filsafat sebagai usaha
yang kokoh dari orang biasa maupun orang cerdik pandai untuk dapat membuat
hidup sedapat mungkin dapat difahami dan mengandung makna, sehingga hal
ini menjadi satu kesatuan pandangan hidup atau ajaran tentang nilai-nilai,
makna-makna dan tujuan-tujuan dari hidup manusia di alam semesta ini.
- Manusia akan menemukan
hakekatnya jika manusia bisa mengunakan dan memanfaatkannya secara optimal
yakni akal. Dengan akal manusia dituntut untuk berfikir dan berfikir
itulah yang mencirikan hakekat manusia dan karena berfikilah dia menjadi
manusia yang hidup dan bermakna yang miliki eksistensinya sebagai manusia.
- Untuk itu sangat relefan
bila manusia menjadikan filsafat sebagai pandangan hidup guna mengarungi
kehidupan dialam jagad raya ini secara benar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Suriadi, Esensi Filsafat IImu Bagi Pendidikan Tinggi, Jurnal Studi Islam Vol.01,
No. 1 Agustus 2000.
Abdul Djamil, Bahan Matakuliah Filsafat, Pada
Hari Juma’at, Tanggal 5 September 2003, Pukul 15.30.
I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Kearah Alam Filsafat, Jakarta, Rineka Cipta, 1997.
Gerard Beekman, Filosofie Filosofen Filosoferen, Terj., R.A. Rivai, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, Jakarta,
Erlangga, 1984.
Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Jakarta, Gramedia, 1981.
Miskan Muhammad Amien, Filsafat Agama, Jakarta, Universitas Indonesia, 1983.
M. Nasroen, Falsafah Dalam Keredlaan Allah, Djakarta, Bulan Bintang, 1967.
The Liang Gie, Suatu Konsepsi Kearah Penertiban Bidang Filsafat, Yogyakarta, Karya
Kencana, 1990.
Yakup Matondang, et, al, Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi, Yogyakarta, Tiara
Wacana, 1998.
1 Dalamnya telah ditegaskan bahwa setiap filsuf sudah
memikirkan tiap-tiap pertanyaan dan tiap-tiap masalah secara mendalam dan itu
makan waktu yang lama, baca lebih lanjut Gerard Beekman, Filosofie Filosofen Filosoferen, Terj. R.A. Rivai, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, (Jakarta:
Erlangga, 1984), 117.
2 Bahwa tidak dapat disangkal lagi bahwa alam (komonitas
sosial) yang dulunya dirasakan oleh manusia mengandung misteri telah
terungkap rahasianya berkat kemajuan
ilmu pengetahuan, dan ini diakui olehnya pasti akan membawa pengaruh positif
maupun negatif yang tentunya bagaimana mencari dalil-dalil baru sebagai
paradigma dalam hidup guna kemajuan masyarakat pada masa yang akan datang
sehingga tidak sampai kehilangan kendali akan kebenaran yang selalu ditegakkan,
baca pada tulisan Ahmad Suriadi, Esensi
Filsafat Ilmu Bagi Pendidikan Tinggi, (Jurnal Studi Islam Vol 01. No.1
Agustus 2000), 53.
3 Ibid, 59. Sikap ilmiah bukanlah semata-mata punya makna hubungan parsial –
individu, Sebab bagaimanapun juga seorang ilmuwan tidak dapat menyendiri dari komunitas
masyarakat luas. Bandingkan juga Yakup Matondang, et, al, Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi, (Yogyakarta: Tiara
Wacana, 1998), 14-15
4 Ibid, 56. Kebiasaan berfikir ilmiah secara konsisten juga
akan melahirkan kejujuran, keterbukaan, dan melahirkan tanggung jawab bagi
seorang ilmuwan. Sikap ilmiah tidak selamanya ditentukan oleh penguasaan ilmu
seperti anggapan kaum rasionalis melalinkan hanya pada sikap kejujuran,
keterbukaan akan saling menghargai sekalipun terjadi perbedaan. Melalui sikap
kritis akan mampu melihat kekurangan dan kelebihan suatu ilmu sehingga ilmu
dapat didudukkan pada tempat yang sewajarnya. Baca juga Yakup Matondang, et.
Al, Perguruan Tinggi Islam di Era
Globalisasi, (Yogya-karta: Tiara Wacana, 1998), 8.
5 Ada sumber lain yang menyebutkan berasal dari kata Yunani
ialah filosofia. Dalam bahasa Yunani
kata filosofia itu merupakan kata majemuk yang terjadi dari filo dan sofia. Filo artinya “cinta” dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan tersebut. Sofia artinya “kebijaksanaan”. Adapun
maksudnya ialah pandai; mengerti secara mendalam. Jadi menurut namanya saja
filsafat boleh dimaknai, ingin mengerti dengan mendalam atau cinta kepada
kebijaksanaan. Baca lebih lanjut I.R. Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 1.
6 Asmoro Achmadi, Filsafat
Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), 1. Simak juga pada Gerard
Beekman, Filosofie Filosofen Filosoferen,
Terj. R.A. Rivai, Filsafat Para
Filsuf Berfilsafat, 14. Dimana Bertrand Russell memberi komentar bahwa
Cinta pada kearifan itu adalah ditunjukkan dengan bagaimana tiap kali
menghadapi persoalan kehidupan, tidak secara dangkal atau dogmatis. Akan tetapi
dilakukan secara kritis dan mendalam serta tidak berat sebelah atau dengan kata
lain tidak ada yang dirugikan.
7 Menurut Ludwing Wittgenstein mengungkapkan bahwa filsafat
bukanlah sebuah ajaran melainkan suatu usaha, lihat Gerard Beekman, Filosofie Filosofen Filosoferen, Terj.
R.A. Rivai, 37.
8 The Liang Gie, Suatu
Konsepsi Kearah Penertiban Bidang Filsafat, (Yogyakarta: Karya Kencana,
1990), 8.
9 Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, 5.
10 Bahan kuliah Filsafat disampaikan oleh Prof. Dr. H. Abdul
Jamil, MA., pada hari jum’at tanggal 5
September 2003, pukul 15.30.
11 Demikian juga dalam kitab suci Al qur’an telah ditunjukkan
bermacam-macam hal yang dituntut agar manusia melakukan aktifitas berfikirnya.
Sebagaimana disebutkan diantaranya kalimat ta’lamun,
ta’qilun, tafa’karun, tadzakkarun, tadabbarun, ja’ulil albab dan
sebagainya, dengan aktifitas berfikir ini diharapkan manusia akan lebih tahu
tabir yang menyelimuti alam semesta jagat raya ini. Lihat M. Nasroen, Falsafah Dalam Keredlaan Allah, (Djakarta:
Bulan Bintang, 1967), 41.
12 Berfikir merupakan ciri khas yang dimiliki oleh manusia
sebagai mahluk yang paling tinggi derajatnya dimuka bumi ini. Baca Miska
Muhammad Amien, Filsafat Agama, (Jakarta:
Universitas Indonesia, 1983), 26.
13 C.A. Van Peursen, Filosofische
Orientatie, Terj. Dick Hartoko, Orientasi
di Alam Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1980), 25.
14 Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, (Jakarta:
Gramedia, 1981), 52.
15 Homo sapiens, manusia yang berfikir, sebuah patung yang
termasyhur, hasil karya pemahat Aguste Rodin (1840-1917) adalah lambang
kemanusiaan. Karena berfikirlah manusia menjadi manusia, mahluk petualang yang
paling unggul dibanding dengan mahluk lain.
16 Baca di dalam tulisan ini
yang diungkapkan oleh Theodore Bramelt pada halm. 4.
17 Baca di dalam tulisan ini
aitem Harus Holistik, pada halm. 5.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar