Jumat, 13 Desember 2013

Penciptaan Kearifan-kearifan

"+"

FILSAFAT
DALAM KEHIDUPAN AKADEMIK

MENUJU PENCIPTAAN KEARIFAN-KEARIFAN






A.    Pendahuluan
Berbicara tentang filsafat, kita tidak bisa melepaskan dari manusia itu sendiri. Sebab, filsafat ada karena adanya filsuf1. Sehingga eksistensi filsafat itu ada dan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan jamannya guna mencari kebenaran yang lebih benar.
Memang, dalam setiap masa pasti akan berbeda dengan masa sebelumnya, tentu hal ini yang akan berakibat dan dituntut bagi setiap orang guna mencari proses kebenaran yang terus berubah sesuai dengan zamannya, yang diakibatkan oleh perubahan masa itu sendiri dan hal ini dipastikan membawa dampak positif dan negatifnya bagi peradaban umat manusia, sebab kehidupan2 bukanlah bersifat monoton atau statis.
Untuk itu tuntutan dalam proses pencarian kebenaran harus dilakukan. Apalagi bagi sosok seorang akademisi atau ilmuwan yang memiliki tanggung jawab sosial yang sangat besar bagi kelangsungan kehidupan bermasyarakat3. Dalam mencari kebenaran, ilmuwan harus senantiasa berusaha melengkapi dirinya dengan berbudi luhur/ kebajikan, kalau ia ingin mempunyai peluang dalam menerobos tabir rahasia keilmuan. Budi luhur/ kebajikan yang didasari oleh berfikir secara ilmiah4 ini misalnya kapasitas untuk kerja keras, ketabahan, keuletan, kegigihan, ketekunan, kesetiaan pada tugas, keterbukaan untuk bekerja sama, saling menghargai diantara rekan-rekannya serta berusaha untuk mencari yang lebih baik demi kemaslakhatan bersama.
Dan sudah menjadi tanggung jawab bagi setiap manusia yang mengerti untuk menyelesaikan persoalan yang belum jelas di masyarakat yakni ilmuwan itu sendiri sebagaimana statusnya. Tentunya dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya.
Persoalan-persoalan dunia tidak hanya saja harus di jawab dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi semata, yang padahal bila ditinjau lebih mendalam bahwa hancurnya tatanan dunia ini karena kecanggihan yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan tehnologi modern itu sendiri. Padahal tehnologi semodern apapun tidak akan mampu menggantikan integritas atau kewibawaan tatanan sosial yang telah ia hancur. Kenyataan ini merupakan salah satu sumber dari adanya berbagai macam krisis dewasa ini.
Tehnologi modern bukanlah sekedar ilmu pengetahuan modern besarta hasil-hasil atau penemuan-penemuannya yang berupa mesin-mesin, pesawat-pesawat, reaktor-reaktor ataupun fasilitas fisik yang maju, melainkan juga termasuk organisasi, sistem dan struktur sosial beserta kekuasaan yang tercakup di dalamnya. Kekuasaan inilah yang pada gilirannya telah menggantikan kekuasaan “tradisional” yang ada, seperti orang tua, lembaga pendidikan, agama baik formal maupun non formal.
Dalam kaitan lingkaran yang visieus, maka rasionalisasi dan sekulerisasi hidup juga menjadi penyebab bagi perkembangan tehnologi modern, sedemikian rupa sehingga kehidupan masyarakat yang menjadi semakin mekanistik, materialistik, juga menjadi semakin kehilangan akan nilai-nilai spiritualnya, nilai-nilai mana yang dulunya bersumber dari kekuasaan “tradisional”. Hilangnya nilai-nilai lama dan belum hadirnya nilai-nilai baru sebagai pengganti, merupakan salah satu penyebab dari adanya berbagai macam krisis sosial dalam kehidupan umat manusia dewasa ini.
Lebih dari masa-masa yang sudah lampau , dunia telah di hadapkan kepada masalah-masalah dasar yang menyangkut nilai-nilai kemanusiaan, yang semakin lama semakin tidak menentu, serta ini merupakan tanggung jawab yang secara sadar diberikan kepada manusia itu sendiri. Dan filsafat mempunyai arti serta peranan yang sangat penting guna mengupayakan untuk memahami dunia dewasa ini.

B.     Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofein, yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis5 yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata kedalam bahasa Inggris philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”6.
Jadi bila kita menijau maksud dari pengertian tersebut telah tergambar dengan jelas bahwa filsafat adalah suatu proses atau usaha yang rasional yang hasilnya bagaimana bisa diterima oleh semua kalangan7. Maka dengan demikian bahwa filsafat itu merupakan suatu “ajaran kehidupan”
Menurut Theodore Bramelt, mengungkapkan bahwa filsafat sebagai usaha yang kokoh dari orang biasa maupun orang cerdik pandai untuk dapat membuat hidup sedapat mungkin dapat di fahami dan mengandung makna8, sehingga hal ini menjadi satu kesatuan pandangan hidup atau ajaran tentang nilai-nilai, makna-makna dan tujuan-tujuan dari hidup manusia di alam semesta ini.
Berfikir secara filsafat dapat di artikan sebagai berfikir yang sangat mendalam sampai ke hakekat-hakekatnya, atau juga berfikir secara global/ menyeluruh. Berfikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berfikir secara tepat dan benar serta hasilnya pun dapat dipertanggung jawabkan dengan memuaskan. Hal ini pun harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 9
1.      Harus Sistematis
Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan untuk menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. Sistematis dalam tahapan ini dimaksudkan bahwa masing-masing unsur saling berkaitan antara satu dengan yang lain secara teratur dalam satu keseluruhan. Sistematika pemikiran seorang filosof banyak dipengaruhi oleh keadaan dirinya, lingkungan, zamannya, pendidikan dan sistem pemikiran yang mempengaruhi.

2.      Harus Konsepsional
Secara umum istilah konsepsional berkaitan dengan ide atau gambaran yang melekat pada akal fikiran yang berada dalam intelektual. Gambaran tersebut mempunyai  bentuk tangkapan sesuai dengan riilnya, sehingga maksud dari konsepsional tersebut sebagai upaya untuk menyusun suatu bagan yang terkonsepsi dengan jelas. Karena berfikir secara filsafat sebenarnya berfikir tentang hal dan prosesnya.

3.      Harus Koheren
Koheren atau runtut adalah unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lain. Koheren atau runtut didalamnya memuat suatu kebenaran logis. Sebaliknya, bila suatu uraian yang didalamnya tidak memuat kebenaran logis, maka uraian tersebut dikatakan sebagai uraian yang tidak koheren atau runtut.

4.      Harus Rasional
Yang dimaksudkan harus rasional adalah unsur-unsurnya berhubungan secara logis. Artinya, pemikiran filsafat harus diuraikan dalam bentuk yang logis. Yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai kaidah-kaidah berfikir (logika).

5.      Harus Sinoptik/Holistik
Sinoptik artinya pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.

6.      Harus Mengarah kepada Pandangan Dunia
Yang dimaksudkan harus mengarah kepada pandangan dunia adalah pemikiran filsafat sebagai upaya untuk memahami semua realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan (hidup) dunia, termasuk didalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada di dalamnya (dunia).

Sehingga orang yang memiliki semangat untuk berfilsafat menjadikan orang tersebut untuk10:
1.      bersikap anti pemikiran yang tidak kritis.
2.      Berfikir secara kritis dan reflektif.
3.      Berusaha untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh.
4.      Memiliki analisa yang logis.
5.      Memiliki semangat untuk bertindak bijaksana dan arif dalam memutuskan sesuatu.

C.    Manusia Dalam Kehidupan
Yang membedakan antara manusia dengan mahluk-mahluk lain ciptaan Allah di muka bumi ini adalah karena manusia di beri potensi untuk berfikir11, dengan akal tersebut manusia menjadi mahluk yang lebih tinggi derajatnya dari pada mahluk lain ciptaan Allah bahkan Malaikat sekalipun, maka dengan demikian manusia yang dianggap manusia adalah mereka yang mampu mengunakan potensinya untuk selalu menggunakan akal dalam proses berfikir, sehingga eksistensi manusia itu ada karena ia berfikir, bila ia (manusia) berhenti berfikir maka hilanglah eksistensi (nilai kemanusiaannya)12. Islam memberikan kedudukan sangat tinggi kepada akal manusia. Sampai-sampai Prof. Dr. C.A. Van Peursen menyatakan dengan tegas, bahwa akal tak dapat menyerap sesuatu dan panca indra tak dapat memikirkan sesuatu, hanya bila kedua-duanya bergabung maka timbullah pengetahuan. Menyerap sesuatu tanpa di barengi dengan akal sama dengan kebutaan, dan fikiran tanpa isi sama dengan kehampaan13. Aktifitas akal ini yang disebut dengan berfikir. Apa sebenarnya berfikir itu?, Secara umum adalah tiap-tiap perkembangan dalam idea, konsep dan sebagainya dapat di sebut berfikir, karena itu maka definisi yang paling umum dari berfikir adalah perkembangan idea dan konsep14.
Dengan demikian dapat di rumuskan secara sederhananya bahwa berfikir adalah perkembangan gambaran mental manusia dalam bentuk pertimbangan khusus yang memantulkan apa yang bersifat umum (universal) dan yang bersifat hakiki (esensial) dalam rangka menangkap bermascam-macam masalah yang sedang di hadapi oleh manusia.
Itulah manusia yang dengan potensi alamiahnya hendaklah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sampai-sampai seorang filsof besar mengukapkan bahwa adanya saya karena saya berfikir dan sebaliknya jika saya tidak ada maka berfikirpun tidak akan pernah ada. Sehingga dari gambaran tersebut dapat di fahami bahwa manusia dianggap memiliki eksistensinya karena manusia berfikir, demikian pula sebaliknya. Kita ingat sebuah patung15 yang termasyhur dari Auguste Rodin; yakni berwujud seorang manusia yang sedang tekun berfikir?, dilah lambang kemanusiaan kita, mahluk yang berfikir. Setiap saat dari hidupnya, sejak dia lahir sampai masuk liang lahat, dia tak pernah berhenti berfikir. Hampir tak ada masalah yang menyangkut peri kehidupan yang terlepas dari jangkauan fikirannya, dari soal paling remeh sampai soal paling asasi, dari soal yang menyangkut sarapan pagi sampai persoalan surga dan neraka di akhir nanti. Berfikir itulah yang mencirikan hakekat manusia dan karena berfikirlah dia menjadi manusia yang hidup.

D.    Filsafat Sebagai Pandangan Hidup.
Pada aitem ini penulis menegaskan bahwa filsafat sebagai pandangan hidup16, karena filsafat pada hakekatnya bersumber pada kodrat pribadi manusia (sebagai mahluk individu, mahluk sosial dan mahluk Tuhan), sebagaimana penjelas-penjelasan sebelumnya. Ini berarti bahwa filsafat mendasarkan pada pejelmaan manusia secara total dan sentral sesuai dengan hakekat manusia sebagai mahluk monodualisme (manusia secara kodrat terdiri dari jiwa dan raga). Manusia secara total (menyeluruh) dan sentral di dalamnya memuat segala bentuk potensi pengetahuan yang dimiliki tanpa harus bersusah payah mencari dari luar dirinya, sebab dari dalam dirinya pun bisa di jadikan sebagai sumber pengetahuan yang pada akhirnya melahirkan sikap berfikir yang kreatif dan analitis.
Filsafat sebagai pandangan hidup merupakan sesuatu hal yang di jadikan dasar dalam setiap langkah maupun tidakan (ation) yang menyeluruh dalam ruang geraknya di dunia fana ini. Hal ini juga tentunya di pergunakan untuk menyelesaikan setiap persoalan-persoalan yang di hadapi dalam hidup. Pandangan hidupnya itu akan tercermin di dalam sikap hidup dan cara hidup. Sikap dan cara hidup tersebut akan muncul apabila manusia mampu memahami dirinya dan lingkungannya secara total (menyeluruh)17.
Apabila hal yang demikian dilakukan maka sempurnalah manusia dalam mengaruhi kehidupannya, karena setiap setiap jengkal langkahnya selalu di fikirkan secara mendalam dan bijak dalam menghadapi suatu persoalan hidup.

E.     Kesimpulan
Dari beberapa uraian singkat diatas dapat ditarik suatu pemahaman bahwa:
  1. sosok seorang akademisi atau ilmuwan yang memiliki tanggung jawab sosial yang sangat besar bagi kelangsungan kehidupan umat manusia pada umumnya. Karena sosok akademisi adalah sosok memiliki profil akan kematangan dari pengetahuan yang dimilikinya.
  2. Persoalan-persoalan dunia tidak hanya saja harus dijawab dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi semata, padahal bila ditinjau lebih mendalam bahwa hancurnya tatanan dunia ini karena kecanggihan yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan tehnologi modern itu sendiri. Dan filsafat mempunyai arti serta peranan yang sangat penting bagi upaya untuk memahami dunia dewasa ini, karena dengan karakter filsafat akan tumbuh nilai-nilai yang akan mengembalikan kewibawaan tatanan sosial yang telah rusak.
  3. Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofein, yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata kedalam bahasa Inggris philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”, sehingga filsafat sebagai usaha yang kokoh dari orang biasa maupun orang cerdik pandai untuk dapat membuat hidup sedapat mungkin dapat difahami dan mengandung makna, sehingga hal ini menjadi satu kesatuan pandangan hidup atau ajaran tentang nilai-nilai, makna-makna dan tujuan-tujuan dari hidup manusia di alam semesta ini.
  4. Manusia akan menemukan hakekatnya jika manusia bisa mengunakan dan memanfaatkannya secara optimal yakni akal. Dengan akal manusia dituntut untuk berfikir dan berfikir itulah yang mencirikan hakekat manusia dan karena berfikilah dia menjadi manusia yang hidup dan bermakna yang miliki eksistensinya sebagai manusia.
  5. Untuk itu sangat relefan bila manusia menjadikan filsafat sebagai pandangan hidup guna mengarungi kehidupan dialam jagad raya ini secara benar.




DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Suriadi, Esensi Filsafat IImu Bagi Pendidikan Tinggi, Jurnal Studi Islam Vol.01, No. 1 Agustus 2000.

Abdul Djamil, Bahan Matakuliah Filsafat, Pada Hari Juma’at, Tanggal 5 September 2003, Pukul 15.30.

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Kearah Alam Filsafat, Jakarta, Rineka Cipta, 1997.

Gerard Beekman, Filosofie Filosofen Filosoferen, Terj., R.A. Rivai, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, Jakarta, Erlangga, 1984.

Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Jakarta, Gramedia, 1981.

Miskan Muhammad Amien, Filsafat Agama, Jakarta, Universitas Indonesia, 1983.

M. Nasroen, Falsafah Dalam Keredlaan Allah, Djakarta, Bulan Bintang, 1967.

The Liang Gie, Suatu Konsepsi Kearah Penertiban Bidang Filsafat, Yogyakarta, Karya Kencana, 1990.

Yakup Matondang, et, al, Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1998.






1 Dalamnya telah ditegaskan bahwa setiap filsuf sudah memikirkan tiap-tiap pertanyaan dan tiap-tiap masalah secara mendalam dan itu makan waktu yang lama, baca lebih lanjut Gerard Beekman, Filosofie Filosofen Filosoferen, Terj. R.A. Rivai, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, (Jakarta: Erlangga, 1984), 117.
2 Bahwa tidak dapat disangkal lagi bahwa alam (komonitas sosial) yang dulunya dirasakan oleh manusia mengandung misteri telah terungkap  rahasianya berkat kemajuan ilmu pengetahuan, dan ini diakui olehnya pasti akan membawa pengaruh positif maupun negatif yang tentunya bagaimana mencari dalil-dalil baru sebagai paradigma dalam hidup guna kemajuan masyarakat pada masa yang akan datang sehingga tidak sampai kehilangan kendali akan kebenaran yang selalu ditegakkan, baca pada tulisan Ahmad Suriadi, Esensi Filsafat Ilmu Bagi Pendidikan Tinggi, (Jurnal Studi Islam Vol 01. No.1 Agustus 2000), 53.
3 Ibid, 59. Sikap ilmiah bukanlah  semata-mata punya makna hubungan parsial – individu, Sebab bagaimanapun juga seorang ilmuwan  tidak dapat menyendiri dari komunitas masyarakat luas. Bandingkan juga Yakup Matondang, et, al, Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1998), 14-15
4 Ibid, 56. Kebiasaan berfikir ilmiah secara konsisten juga akan melahirkan kejujuran, keterbukaan, dan melahirkan tanggung jawab bagi seorang ilmuwan. Sikap ilmiah tidak selamanya ditentukan oleh penguasaan ilmu seperti anggapan kaum rasionalis melalinkan hanya pada sikap kejujuran, keterbukaan akan saling menghargai sekalipun terjadi perbedaan. Melalui sikap kritis akan mampu melihat kekurangan dan kelebihan suatu ilmu sehingga ilmu dapat didudukkan pada tempat yang sewajarnya. Baca juga Yakup Matondang, et. Al, Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi, (Yogya-karta: Tiara Wacana, 1998), 8.
5 Ada sumber lain yang menyebutkan berasal dari kata Yunani ialah filosofia. Dalam bahasa Yunani kata filosofia itu merupakan kata majemuk yang terjadi dari filo dan sofia. Filo artinya “cinta” dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan tersebut. Sofia artinya “kebijaksanaan”. Adapun maksudnya ialah pandai; mengerti secara mendalam. Jadi menurut namanya saja filsafat boleh dimaknai, ingin mengerti dengan mendalam atau cinta kepada kebijaksanaan. Baca lebih lanjut I.R. Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 1.
6 Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), 1. Simak juga pada Gerard Beekman, Filosofie Filosofen Filosoferen, Terj. R.A. Rivai, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, 14. Dimana Bertrand Russell memberi komentar bahwa Cinta pada kearifan itu adalah ditunjukkan dengan bagaimana tiap kali menghadapi persoalan kehidupan, tidak secara dangkal atau dogmatis. Akan tetapi dilakukan secara kritis dan mendalam serta tidak berat sebelah atau dengan kata lain tidak ada yang dirugikan.
7 Menurut Ludwing Wittgenstein mengungkapkan bahwa filsafat bukanlah sebuah ajaran melainkan suatu usaha, lihat Gerard Beekman, Filosofie Filosofen Filosoferen, Terj. R.A. Rivai, 37.
8 The Liang Gie, Suatu Konsepsi Kearah Penertiban Bidang Filsafat, (Yogyakarta: Karya Kencana, 1990), 8.
9 Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, 5.


10 Bahan kuliah Filsafat disampaikan oleh Prof. Dr. H. Abdul Jamil, MA., pada hari jum’at  tanggal 5 September 2003, pukul 15.30.
11 Demikian juga dalam kitab suci Al qur’an telah ditunjukkan bermacam-macam hal yang dituntut agar manusia melakukan aktifitas berfikirnya. Sebagaimana disebutkan diantaranya kalimat ta’lamun, ta’qilun, tafa’karun, tadzakkarun, tadabbarun, ja’ulil albab dan sebagainya, dengan aktifitas berfikir ini diharapkan manusia akan lebih tahu tabir yang menyelimuti alam semesta jagat raya ini. Lihat M. Nasroen, Falsafah Dalam Keredlaan Allah, (Djakarta: Bulan Bintang, 1967), 41.
12 Berfikir merupakan ciri khas yang dimiliki oleh manusia sebagai mahluk yang paling tinggi derajatnya dimuka bumi ini. Baca Miska Muhammad Amien, Filsafat Agama, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1983), 26.
13 C.A. Van Peursen, Filosofische Orientatie, Terj. Dick Hartoko, Orientasi di Alam Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1980), 25.
14 Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, (Jakarta: Gramedia, 1981), 52.

15 Homo sapiens, manusia yang berfikir, sebuah patung yang termasyhur, hasil karya pemahat Aguste Rodin (1840-1917) adalah lambang kemanusiaan. Karena berfikirlah manusia menjadi manusia, mahluk petualang yang paling unggul dibanding dengan mahluk lain.
16 Baca di dalam tulisan ini yang diungkapkan oleh Theodore Bramelt pada halm. 4.
17 Baca di dalam tulisan ini aitem Harus Holistik, pada halm. 5.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar