KONSEP PENGETAHUAN
DALAM ISLAM
A. Pendahuluan
Konsep pengetahuan yang menyeluruh bermula dari
pengetahuan tentang segala sesuatu yang dapat dilihat dan apa yang dibalik
kehidupan alam indrawi serta meliputi alam kejiwaan seseorang.
Al Qur’an adalah firman-firman Allah SWT yang sarat
dengan kandungan pengetahuan tentang hal-hal yang tampak dalam hal-hal yang
tersembunyi, ia memberikan dasar-dasar yang rasional untuk mendapatkan
kebenaran1. Agar pesan-pesan kebenaran itu dapat
dipahami dengan benar oleh manusia maka diutuslah Rasullullah untuk membimbing,
mengarahkan dan mengajarkan manusia kepada jalan yang telah ditetapkan oleh
Allah SWT. Dengan demikian seorang Muslim percaya bahwa konsep pengetahuan yang
menyeluruh tentang ilmu pengetahuan bukanlah semata-mata dibuat oleh manusia
melainkan dianugrakkan oleh Allah SWT dan harus diwujudkan oleh setiap individu
Muslim melalui bimbingan wahyu yang ada dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang selalu mengajak
umatnya agar senantiasa membaca dan menulis serta menggunakan segenap potensi
kekuatan intelektualnya untuk mencari kebenaran. Tujuan dari ajakan itu adalah
untuk mensucikan hati orang-orang yang telah beriman kepada Allah SWT semata2, dan agar terbentuk manusia yang
sempurna sesuai dengan kaidah-kaidah Islam sebagai wujud dari kehendak-Nya3.
Adapun perintah membaca dan menulis yang termaktub
dalam Al-Qur’an diantaranya dalam surat Al Alaq ayat 3 sampai dengan ayat 5
yang artinya Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajarkan
(manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya4.
Dari ayat tersebut diperoleh pengertian bahwa kita
yang salah satu tugasnya adalah sebagai khalifah di bumi ini, diperintahkan
untuk terus menggali potensi ilmu pengetahuan dengan jalan membaca ayat-ayat
Allah, baik yang terucap (berupa Al Qur’an sebagai sumber dari segala sumber
ilmu pengetahuan) maupun membaca ayat-ayat Allah yang tercipta (berupa ciptaan
alam semesta beserta dengan segala macam isinya). Oleh karena itu dalam makalah
ini akan memaparkan “Konsep Pengetahuan dalam Islam”.
B. Pengertian Pengetahuan dalam Islam
Termenologi ilmu, berasal dari bahasa Arab yakni dari
kata ‘ilm yang berarti pengetahuan, merupakan lawan kata jahl yang
memiliki arti ketidaktahuan atau kebodohan, kata ilmu biasanya disepadankan
dengan kata Arab lainnya , yaitu ma’rifah (pengetahuan), fiqh (pemahaman),
hikmah (kebijaksanaan), dan syu’ur (perasaan). Kata ma’rifah adalah
padanan kata ilm yang sering digunakan5.
Pandangan tersebut menurut Munawar Ahmad Anes bahwa
dalam konsep Islam yang berlandaskan Al Qur’an, merupakan upaya menterjemahkan
“ilmu” sebagai “pengetahuan” yang lebih luas, karena hal ini memiliki konsep
yang luhur dan dan multidimensional. Ilmu memang mengandung unsur-unsur dari
apa yang dipahami sekarang ini sebagai pengetahuan. Tetapi ia juga menghasilkan
hikmah dari proses tersebut6.
Sehingga dalam dunia Islam, ilmu bermula dari
keinginan untuk memahami wahyu yang
terkandung dalam Al Qur’an dan juga bimbingan Nabi Muhammad Saw lewat beberapa
hadits yang diriwayatkan7.
Selanjutnya dalam perkembangannya, Al Qur’an ditafsirkan di surat Al Alaq 1-5
yang merupakan pertama dari turunnya ayat-ayat Al Qur’an ini berarti merupakan bukti bahwa ajaran
Islam sejak awal meletakkan semangat keilmuan sebagai posisi yang sangat
penting.
Konsep ajaran Islam tentang pengembangan ilmu
pengetahuan yang demikian itu didasarkan kepada beberapa prinsip sebagai
berikut adalah pertama ilmu pengetahuan dalam Islam dikembangkan dalam
kerangka taukhid atau teologi, kedua ilmu pengetahuan dalam Islam
hendaknya dikembangkan dalam rangka bertakwa dan lebih meningkatkan ibadah
kepada Allah SWT, ketiga orientasi pengembangan ilmu pengetahuan
hendaknya juga harus dimulai dengan suatu pemahaman yang mendasar tentang
konsepsi ilmu itu sendiri, keempat ilmu pengetahuan dalam Islam harus
dikembangkan secara integral, yakni tidak mendikotomikkan antara ilmu agama
dengan ilmu umum, walaupun bentuk formalnya berbeda, tetapi hakekatnya sama yaitu
sama-sama sebagai tanda kekuasaan Allah SWT8.
C. Al-Qur’an dan Al-Hadits Sebagai Sumber Acuan Berfikir
Sesungguhnya keseluruhan ayat-ayat Al Qur’an adalah
berisikan tentang berbagai macam ilmu-ilmu pengetahuan. Apalagi jika ditambah
dengan perintah Nabi Muhammad Saw tentang masalah Ilmu9.
Dengan demikian kekuatan spiritual dari ajaran Islam yang termaktub dalam Al
Qur’an dan Al Hadits telah mendorong setiap Muslim untuk selalu belajar membaca
dan menulis10.
Dari pandangan tersebut tidak mengherankan jika para
sarjana Muslim telah banyak mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan dan
Al Qur’an telah banyak menjadi sumber acuan dalam mengembangkan pemikiran
manusia, diantaranya ada 3 aspek yakni, Pertama aspek etika yang meliputi aspek
persepsi tentang ilmu pengetahuan, kedua aspek historis dan psikologis, ketiga
aspek observatif dan eksperimental ilmu pengetahuan11.
Etika yang berkenaan dengan prinsip-prinsip dasar
tentang kebenaran, perbuatan dan moralitas baik untuk individu maupun
masyarakat dengan jalan memberikan sebuah sistem cara hidup yang lengkap untuk
kemaslakhatan di dunia dan akhirat.
Aspek historis dan psikologis berkenaan dengan
prilaku dan cara berfikir manusia yang ada kaitannya dengan negara berdasarkan
dengan norma-norma yang telah digariskan oleh agama.
Aspek observatif dan aspek eksperimental berhubungan
dengan sumber acuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan tentang syah sesuai yang
ada kaitannya dengan komunikasi vertikal dengan Sang Pencipta maupun komunikasi
horizontal dengan sesama makhluk.
Ketiga aspek tersebut hanyalah sarana untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk menjadikan prinsip-prinsip
tauhid yang selalu hidup dalam hati, jiwa dan intelektualitas manusia yang
selanjutnya menjadi dasar terhadap pengembangan prinsip-prinsip pendidikan ilmu
pengetahuan Islam.
Ismail Raji al Faruqi dalam bukunya “Toward
Islamic English” yang menggambarkan usaha keras dalam islamisasi ilmu
pengetahuan baik dari segi bahasa maupun
subtansinya. Disini juga, Raji al Faruqi
memperkenalkan bahasa Al Qur’an/ bahasa Arab di artikan ke dalam bahasa
Inggris, dengan tujuan agar istilah dalam agama Islam tidak akan dipahami
dengan pemahaman yang menyimpang. Ia menghendaki agar semua kaum Muslimin di
seluruh penjuru dunia mampu mengaplikasikannya dengan baik, meskipun mereka
orang Inggris12. Dari sini bertujuan
untuk memudahkan bagi para ilmuwan dalam mempelajari Islam secara utuh.
Pada masa kenabian dan kehidupan para sahabat,
perkembangan ilmu-ilmu keislaman masih sekitar bagaimana Al Qur’an bisa dijaga
kemurniannya dan mampu tersebarluaskan di segenap lapisan masyarakat secara
luas, dengan cara mengajarkan cara membaca dan cara menghafal serta mengajarkan
cara menulisnya. Disamping itu juga mempelajari bagaimana Hadits-hadits Nabi
yang tercecer itu dapat dikumpulkan dan diabadikan dalam satu tulisan yang
tertib. Namun karena dunia Islam semakin luas wilayahnya, maka sebagai
konsekwensinya , ajaran-ajaran Islam di tantang untuk menyelesaikan proses alam
kehidupan masyarakat yang semakin majemuk dan kompleks. Oleh karena itu
muncullah cabang ilmu Islam yang lain yakni fiqih yang bertujuan untuk
menyelesaikan berbagai persoalan yang ada dalam masyarakat Islam, mulai dari
persoalan ibadah sampai pada persoalan-persoalan muamalah yakni transaksi ekonomi,
utang-piutang, hukum waris, pernikahan, perceraian dan lain sebagainya yang
muncul dalam fenomena masyarakat Muslim.
Dari paparan tersebut diatas jelaslah bahwa Al Qur’an
dan Al Hadits merupakan sumber bagi ilmu-ilmu Islam dalam arti yang seluas-luasnya.
Kedua sumber pokok Islam ini memainkan peranan ganda dalam penciptaan dan
pengembangan ilmu pengetahuan. Prinsip-prinsip seluruh ilmu terdapat dalam Al
Qur’an dimana pemahaman terhadap Al Qur’an terdapat pula penafsiran yang
esoteris (maknawi) terhadap kitab suci ini yang tidak hanya mengungkap
misteri-misteri yang
dikandungnya, namun juga pencarian makna secara lebih mendalam yang berguna
bagi pembangunan paradigma ilmu pengetahuan.
Al Qr’an dan Al Hadits menciptakan iklim yang
kondusif bagi pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan dalam
menuntut ilmu. Pencarian ilmu dari segi apapun berujung pada penegasan tauhid,
keunikan dan keesaan Tuhan. Karenanya seluruh metafisika dan kosmologi yang
terbit dari kandungan Al Qur’an dan Al Hadits merupakan sumber dasar
pembangunan dan pengembangan ilmu Islam. Kedua sumberpokok ini menciptakan
atmosfir khas yang mendorong aktifitas intelektual dalam konformitas dengan
semangat Islam13. Hal ini menunjukkan
bahwa dalam aplikasi aktifitas intelektual ini harus selalu merujuk dan tunduk
pada rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an.
Pengertian pendidikan Agma Islam disini, berfungsi mengintegratifkan wawasan
keilmuan dan keagamaan dalam sistem pendidikan Islam adalah terletak pada
perwujudan ketundukan manusia kepada Allah SWT baik secara pribadi, komunitas
maupun seluruh umat manusia14.
D. Kajian Bahasa
Konsep pengetahuan tidak terbatas pada aspek teologis
(aqidah) dan mistis semata, namun berbagai macam cabang ilmu juga di pelajari.
Disamping bahasa Inggris yang telah dipaparkan dimuka yang telah dipelopori
oleh Ismail Raji al Faruqi juga bahasa Arab banyak sekali dipelajari, karena
memang Islam tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Arab. Kita juga mafhum
bahwa syariat Islam dengan pemahaman yang benarsesuai dengan konteks masyarakat
dimana wahyu itu diturunkan yang tentunya juga harus mempelajari bahasa yang
digunakan oleh masyarakat Arab tersebut sehingga tidak mengherankan jika pada
awal perkembangan agama Islam, struktur bahasa Arab mendapat perhatian yang
serius untuk dipelajari. Salah seorang sahabat Nabi yang ahli dalam tata bahasa
Arab adalahsahabat Ali bin Abi Tholib. Sepeninggal sahabat tersebut masih ada
ahli bahasa diantaranya Kholil dan muridnya Sibuwaih serta Ibnu Sina.
Para ilmuwan Muslim telah mencatat beberapa prestasi
keilmuan, antara lain adalah:
1.
Mereka banyak mencurahkan perhatian pada Al Qur’an
dengan cara membaca, mengartikan, menghafal dan mengklasifikasikan ayat-ayat
yang tergolong muhkammat dan ayat-ayat yang tergolong mutasyabihad serta
qiyas.
2.
Ilmu Hadits, secara ilmiah diformulasi dan dikembangkan
serta ditemukannya metode untuk menentukan keaslian hadits serta dikumpulkannya
hadits-hadits yang shahih.
3.
Ilmu fiqih termasuk ilmu ushul fiqh yang
berhasil disusun dan dikembangkan.
4.
Ilmu tasawuf kala itu, telah berkembang dengan
pesatnya.
5.
Cabang-cabang ilmu yang lain seperti pengobatan,
astronomi dan keahlian dalam jihad juga tidak diabaikan begitu saja15.
E. Kajian Filsafat, Sain dan Sejarah
Pada masa dinasti Abbasiyah terjadi perubahan yang
sangat signifikan dalam konsep ilmu pengetahuan Islam. Konsep ilmu pengetahuan
berkembang lebih luas, bukan saja meliputi di bidang spiritual, namun telah
merambah pada bidang filsafat dan sains16.
faktor yang berpengaruh mengapa demikian adalah karena adanya pengaruh budaya
persia. Bagdad sebagai ibu kota pemerintahan Islam memang menjadi pusat
pertemuan antara budaya Arab Islam dengan budaya Persi. Pada masa ini, ilmu
pengetahuan Islam berkembang dengan pesat dan mengalami puncak kejayaannya.
Disamping perkembangan tersebut juga muncul pemikiran liberal, dimana pemikiran
yang dikembangkan banyak menyimpang dari ajaran Islam, serti aliran Mu’tzilah
yang mendapat pengaruh kuat dalam dinasti Abbasiyah sehingga pada saat itu
sering terjadi perdebatan sengit antara
aliran ini dengan golongan ahli sunnah wal jamma’ah.
Berkembangnya filsafat dan rasionalitas dalam belajar
ilmu pengetahuan sehingga muncul dan berkembang berbagai cabang-cabang ilmu
pengetahuan seperti filsafat, matematika, astronomi, kimia, fisika dan
geografi. Tokoh-tokoh ilmuwan Muslim yang muncul pada masa ini diantaranya
adalah Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina,
Al Ghazali dan Ibnu Khaldun. Disamping pemikiran filsafat,
eksperimen-eksperimen ilmiah juga banyak dilakukan. Para ilmuwan Muslim
menyusun teori-teori tentang ilmu pengetahuan, baik ilmu sosial maupun ilmu
eksakta. Bahkan juga untuk cabang geografi banyak ilmuwan bermunculan
diantaranya adalah Muslim bin Humair, Ja’far bin Ahmad, Ibnu Hauqal, Al Biruni
dan lain sebagainya.
F. Tantangan dan Peluang
Dewasa ini banyak masyarakat Muslim telah semakin
menyadari tentang keterbatasan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang yang
mereka miliki. Kesadaran itu diwujudkan dengan cara menyediakan sistem
pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi umat Islam. Namun untuk
menyediakan sistem pendidikan yang yang islami tentu tidak mudah mengingat
telah banyak dan mapannya pendidikan sekuler, yang terkadang banyak
bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam sangat menghargai
adanya nilai-nilai spiritual sedangkan pendidikan sekuler lebih bersifat matrealistis.
Dengan melihat konsep masing-masing sistem pendidikan
tersebut, maka rasanya sulit untuk menyatukan baik dalam konsep, prilaku maupun
dalam pendekatan-pendekatan yang digunakan. Di dunia Islam, sistem pendidikan
Islam selama ini telah berkembang secara signifikan, dimana telah terjadi
evolusi konsep ilmu pengetahuan kearah yang lebih baik, dimana
universitas-universitas Islam dapat diharapkan memainkan perannya dimasa yang
akan datang.
G. Kesimpulan
Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut,
diantaranya adalah:
1. Al
Qur’an dan Al Hadits merupakan sumber pokok ilmu pengetahuan, dimana setelah
dikembangkan menjadi beberapa cabang ilmu yang sangat luas cakupannya.
2. Kajian
pengetahuan dapat dikembangkan dengan berbagai macam bahasa dengan kata lain
bahwa melalui bahasa, beberapa cabang pengetahuan terutama pengetahuan
keislaman dapat digali dengan menggunakan kajian yang berbahasa Arab, lalu
dikembangkan melalui bahasa-bahasa lain sehingga pengetahuan Islam dapat
berkembang diseluruh penjuru dunia.
3.
Sistem pendidikan yang sekarang mulai dikembangkan
adalah sistem pendidikan non dikhotomik, sehingga cabang-cabang ilmu pengetahuan
merupakan satu kesatuan. Ini merupakan peluang bagi pengembangan pengetahuan.
4.
Sistem informasi dan komunikasi berkembang dengan pesat
dan masyarakat Muslim semakin menyadari tentang
keterbatasan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, sehingga ini merupakan
tantangan bagi pakar-pakar ilmuwan Muslim untuk mengantisipasi keterbatasan
tersebut dimasa yang akan datang, sehingga diharapkan kaum Muslimin selalu
menjadi inovator dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al Ghazali Tentang
Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah,
Sekolah dan Masyarakat, Terj. Shihabuddin, Jakarta: Gema Insani Press,
1995.
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan; Mengatasi Kelemahan
Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media, 2003.
Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta:
Aditya Media, 1993.
Achmadi, Pendidikan Islam Antisipatoris, Dalam
Jurnal Edukasi, Vol. II, No. 1, Januari 2004.
A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi; Reintrepretasi
Ajaran Islam, Persiapan SDM dan Terciptanya Masyarakat Madani, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2003.
A. Qodri Azizy, Pendidikan (Agama) Untuk Membangun
Etika Sosial, Mendidik Anak Sukses Masa Depan; Pandai dan Bermanfaat, Semarang:
Aneka Ilmu, 2002.
Ayumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan
Modernisasi Menuju Melinium Baru, Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999.
Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Bandung:
Gema Risalah Press, 1989.
Hery Noer Aly dan Munzier.S., Watak Pendidikan
Islam, Jakarta: Friska Agung Insani, 2000.
H.H. Bilgrami and S.A. Ashraf, The Islamic Academy,
Cambridge.
Ismail Raji al Faruqi, Toward Islamic English, International
Institute of Islamic Thoght Heradon Firginia, USA, 1986.
Munawar Ahmad Anes, Menghidupkan Kembali Ilmu dalam
Hikmah, Yogyakarta: SIPRESS, 1996.
Tim Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam Jilid 2, Jakarta:
Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993.
1 Bahwa tujuan dari pencapaian
pengetahuan adalah dicapainya kesempurnaan ahlaq bagi manusia . Baca Hery Noer
Aly dan Munzier.S., Watak Pendidikan Islam, (Jakarta: Friska Agung
Insani, 2000), 112. Bandingkan juga Buku Qodri Azizy, Pendidikan (Agama)
Untuk Membangun Etika Sosial, Mendidik Anak Sukses Masa Depan; Pandai dan
Bermanfaat, (Semarang: Aneka Ilmu, 2002), 107, Bahwa pembekalan pengetahuan
bagi setiap manusia adalah untuk membentuk sifat dan karakter yang baik.
2 H.H. Bilgrami and S.A. Ashraf, The
Islamic Academy, Cambridge, 2. Bandingkan dengan pandangan Imam Al Ghazali
bahwa tujuan orang mencari Ilmu tidak lain adalah untuk lebih mendekatkan diri
kepada Allah SWT, sehingga hal ini menjadikan manusia yang sempurna . Baca
Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1998), 56. Juga bandingkan dalam buku Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan
Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Terj. Shihabuddin, (Jakarta: Gema
Insani Press, 1995), 116, dinyatakan bahwa pengetahuan yang didapatkan adalah
semata-mata sebagai landasan dasar untuk memperkuat kenyakinan dan keimanan
manusia atas keberadaan Allah SWT.
3 Baca Achmadi, Islam Sebagai
Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 1993), 20.
4 Departemen Agama RI, Al Qur’an dan
Terjemahnya, (Bandung: Gema Risalah Press, 1989).
5 Tim Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam
Jilid 2, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993), 201
6 Munawar Ahmad Anes, Menghidupkan
Kembali Ilmu dalam Hikmah, (Yogyakarta: SIPRESS, 1996), 72.
7
Tim Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam Jilid 2, Ibid, 201.
8 Baca Abuddin Nata, Manajemen
Pendidikan; Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta:
Prenada Media, 2003), 103 – 107.
9 Seperti hadits Nabi yang menyatakan
artinya; “Carilah ilmu mulai dari ayunan ibundamu sampai masuk ke Lianglahat
(kubur)”, “Carilah ilmu sampai ke negeri Cina”, “Wajib menuntut ilmu bagi
Muslim laki-laki dan Muslim perempuan” dan lain sebagainya.
10 H.H. Bilgrami and S.A. Ashraf, The
Islamic Academy, Ibid, 2.
11 H.H. Bilgrami and S.A. Ashraf, The
Islamic Academy, Ibid.
12 Ismail Raji al Faruqi, Toward
Islamic English, (International Institute of Islamic Thoght Heradon
Firginia, USA, 1986), 7.
13 Ayumardi Azra, Pendidikan Islam;
Tradisi dan Modernisasi Menuju Melinium Baru, (Jakarta: PT. Logos Wacana
Ilmu, 1999), 13.
14 Achmadi, Pendidikan Islam
Antisipatoris, Dalam Jurnal Edukasi, Vol. II, No. 1, Januari 2004, 144.
Bandingkan juga A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi; Reintrepretasi Ajaran
Islam, Persiapan SDM dan Terciptanya Masyarakat Madani, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2003), 84.
15 H.H. Bilgrami and S.A. Ashraf, The
Islamic Academy, Ibid. 7.
16 Ibid, 8.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar